SEANTERONEWS.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengambil langkah cepat untuk mengakselerasi proses pencarian vaksin serta terapi guna meredam wabah Ebola yang dipicu oleh virus Bundibugyo (BVD). Saat ini, perebakan virus tersebut tengah terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC) serta dilaporkan telah melintasi perbatasan hingga masuk ke wilayah Uganda.
Dalam keterangan resmi yang dirilis pada Minggu (31/5/2026), badan kesehatan PBB tersebut menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun jenis terapi maupun vaksin yang mengantongi lisensi resmi khusus untuk mengobati atau mencegah infeksi dari virus Ebola varian Bundibugyo ini.
Oleh sebab itu, seluruh opsi produk yang masuk dalam daftar prioritas saat ini hanya akan dipergunakan dalam skema uji klinis. Langkah tersebut diambil guna menghimpun data ilmiah yang valid sekaligus menjamin seluruh proses riset berjalan secara aman, etis, dan efektif di lapangan.
“Saat ini, WHO tengah menjalin kerja sama intensif dengan pemerintah Republik Demokratik Kongo serta Uganda untuk mempermudah pelaksanaan evaluasi klinis terhadap produk-produk tersebut,” jelas WHO dalam laporan resminya.
Untuk membantu pemulihan pasien yang telah dikonfirmasi positif terinfeksi, tim ahli independen merekomendasikan tiga kandidat obat utama. Ketiga kandidat tersebut meliputi antibodi monoklonal MBP134, Maftivimab®, serta senyawa antivirus remdesivir. Selain penggunaan mandiri, kombinasi antara antibodi monoklonal dengan remdesivir dinilai layak untuk diteliti lebih lanjut lewat uji klinis langsung di lapangan.
Pada sektor pencegahan, WHO memprioritaskan penggunaan antivirus oral bernama obeldesivir sebagai langkah profilaksis pascapaparan (pencegahan setelah terjadinya kontak) bagi mereka yang melakukan kontak erat dengan pasien Ebola.
Sementara itu, untuk pengembangan vaksin, formula dosis tunggal rVSV Bundibugyo buatan International AIDS Vaccine Initiative (IAVI) dipandang sebagai kandidat paling potensial. Namun, vaksin ini diperkirakan masih memerlukan waktu sekitar tujuh hingga sembilan bulan ke depan sebelum benar-benar siap diuji efektivitasnya secara klinis.
Sebagai alternatif dengan estimasi waktu yang lebih singkat, kandidat vaksin ChAdOx1 Bundibugyo hasil kolaborasi Universitas Oxford dan Serum Institute of India diproyeksikan siap dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan untuk mulai dinilai tingkat kemanjurannya.
Berdasarkan kajian para ahli, strategi pemberian vaksin dosis tunggal lebih direkomendasikan bagi individu yang melakukan kontak langsung dengan pasien. Sementara itu, skema pemberian dua dosis dinilai lebih tepat untuk melindungi kelompok dengan tingkat risiko penularan yang tinggi, seperti para tenaga kesehatan dan petugas medis di garda terdepan.
WHO juga sempat mengkaji peluang pemanfaatan Ervebo, yang merupakan satu-satunya vaksin Ebola berlisensi saat ini. Meski demikian, bukti pendukung mengenai adanya perlindungan silang (cross-protection) dari Ervebo terhadap virus Bundibugyo dinilai masih sangat minim dan belum bisa disimpulkan secara pasti.
“WHO menyarankan agar penggunaan Ervebo dihindari di luar kerangka riset yang dirancang secara ketat. Hal ini penting guna memastikan penilaian yang akurat terhadap kinerjanya dalam melawan BDV,” tambah perwakilan WHO.
Guna merealisasikan agenda riset ini, WHO bersama jajaran pemerintah DRC, Uganda, Africa CDC, ANRS Emerging Infectious Diseases Prancis, serta sejumlah aliansi ilmiah global kini tengah bahu-membahu merancang protokol penelitian demi menguji keamanan serta efikasi dari rangkaian terapi prioritas tersebut.[]










