BREAKING

INTERNASIONAL

Trump Bakal Tagih Biaya Perang Iran ke Negara-Negara Arab

Gedung Putih beri sinyal Presiden Trump akan tagih biaya perang Iran kepada negara Arab. Biaya militer AS capai puluhan miliar dolar seiring lonjakan harga energi.

Gedung Putih memberikan sinyal kuat bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berencana meminta negara-negara Arab untuk menanggung beban finansial dari operasi militer AS di Iran. Perang yang kini memasuki hari ke-31 tersebut diperkirakan telah menelan biaya hingga puluhan miliar dolar Amerika.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan pada Senin (30/3/2026) bahwa gagasan agar sekutu regional membiayai intervensi Washington bukanlah hal baru, merujuk pada pola pendanaan yang terjadi saat Perang Teluk tahun 1990.

“Saya pikir itu adalah sesuatu yang sangat menarik bagi Presiden untuk meminta mereka (negara-negara Arab) melakukannya,” ujar Leavitt kepada wartawan. “Ini adalah gagasan yang beliau miliki, dan Anda akan mendengar lebih banyak lagi darinya mengenai hal ini.”

Berbeda dengan Perang Teluk 1990 di mana koalisi global mengumpulkan dana bantuan sebesar $54 miliar (setara $134 miliar saat ini), perang kali ini diluncurkan AS dan Israel secara sepihak tanpa melibatkan mandat luas dari negara-negara kawasan.

Meski demikian, tagihan militer terus meroket. Menurut laporan rahasia kepada Kongres AS:

6 Hari Pertama: Perang menelan biaya $11,3 miliar.

Hari ke-12: Estimasi biaya naik menjadi $16,5 miliar.

Kebutuhan Mendatang: Gedung Putih kini meminta tambahan anggaran militer sebesar $200 miliar kepada Kongres untuk mendanai kampanye di Iran dan mengisi kembali stok amunisi Pentagon.

Komentator sayap kanan yang dekat dengan Trump, Sean Hannity, bahkan mengusulkan agar kesepakatan gencatan senjata di masa depan mewajibkan Iran membayar seluruh biaya operasi militer AS dengan minyak. Namun, Teheran justru menuntut kompensasi dari AS atas kerusakan perang yang telah menewaskan hampir 2.000 warga Iran.

Di lapangan, konflik kian meluas. Iran merespons serangan AS-Israel dengan meluncurkan rudal dan drone ke aset-aset AS di Timur Tengah. Beberapa serangan juga menghantam infrastruktur sipil seperti bandara dan fasilitas energi di sejumlah negara Teluk.

Selain beban anggaran militer, penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi global. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin kini menyentuh $3,99 per galon, naik lebih dari $1 sejak perang dimulai.

Menanggapi keluhan publik, Karoline Leavitt menegaskan bahwa fluktuasi harga ini adalah pengorbanan jangka pendek demi keamanan jangka panjang. “Ini adalah tindakan untuk mengakhiri ancaman Iran terhadap Amerika Serikat dan sekutu kami di kawasan,” tegasnya.

Di pihak lain, Teheran bersikeras bahwa mereka diserang terlebih dahulu di tengah proses diplomasi yang sedang berjalan dan mengklaim tidak pernah menjadi ancaman bagi stabilitas kawasan sebelum agresi AS dimulai.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts