Eskalasi militer besar-besaran melanda Iran pada Sabtu pagi (28/02/2026). Serangkaian serangan udara yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah menghantam sejumlah kota besar, termasuk ibu kota Teheran. Laporan mengejutkan menyebutkan bahwa kampanye militer ini telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei, beserta jajaran petinggi pemerintahan lainnya.
Operasi militer ini terjadi hanya beberapa hari setelah kegagalan negosiasi antara Teheran dan Washington, menyusul gelombang protes massa di Iran yang menelan ribuan korban jiwa serta pemadaman internet terlama dalam sejarah negara tersebut.
Perang Siber: Notifikasi “Pembalasan” di Ponsel Warga
Bersamaan dengan dentuman misil, serangan siber masif dilaporkan turut melumpuhkan infrastruktur digital Iran. Hal unik terjadi ketika jutaan warga melaporkan ponsel mereka dibanjiri notifikasi dari aplikasi doa populer, BadeSaba.
Aplikasi yang memiliki lebih dari 5 juta unduhan tersebut diduga telah disusupi oleh pihak eksternal. Notifikasi yang masuk berisi seruan untuk melakukan “perhitungan” terhadap rezim dan menjanjikan amnesti bagi siapa pun yang berani bangkit melawan pasukan pemerintah. Salah satu pesan menyebutkan bahwa rezim harus “membayar tindakan kejam terhadap rakyat yang tidak bersalah.” Hingga saat ini, belum jelas aktor di balik peretasan aplikasi tersebut.
Lumpuhnya Konektivitas Global
Direktur analisis internet dari Kentik, Doug Madory, melaporkan bahwa konektivitas internet di Iran merosot hingga mendekati nol segera setelah serangan udara dimulai. Raksasa jaringan Cloudflare juga mengonfirmasi keruntuhan total lalu lintas internet di wilayah tersebut pada Sabtu pagi.
Serangan siber ini diyakini sebagai bagian dari strategi AS dan Israel untuk membatasi kemampuan respons militer Iran, termasuk menyasar sektor perbankan dan bursa kripto guna memberikan tekanan maksimal pada kepemimpinan yang telah berkuasa sejak revolusi 1989.
Dampak Domino di Timur Tengah
Konflik ini dengan cepat meluas ke negara tetangga. Iran dilaporkan meluncurkan misil balasan yang menghantam wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Raksasa teknologi Amazon mengonfirmasi terjadinya gangguan pada pusat data mereka di Timur Tengah (UEA) setelah fasilitas tersebut terkena objek yang memicu ledakan dan kebakaran.
Selain infrastruktur digital, jalur perdagangan global kini berada dalam ancaman serius. Aktivitas pengiriman barang melalui Selat Hormuz dilaporkan terhenti total, yang diprediksi akan mengganggu rute logistik laut dan udara internasional serta memicu krisis e-commerce.
Situasi Kemanusiaan dan Politik
Kehancuran kepemimpinan tertinggi Iran menandai titik balik geopolitik yang sangat tidak menentu. Di tengah pemadaman informasi dan serangan fisik, warga sipil kini berada di antara reruntuhan bangunan dan kekacauan informasi digital. Para analis memperingatkan bahwa tanpa kepemimpinan pusat, risiko perang saudara atau perebutan kekuasaan antar-faksi di dalam negeri menjadi ancaman nyata yang bisa memperparah krisis kemanusiaan.[]









