ACEH TAMIANG – Kondisi memprihatinkan menimpa warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Hingga mendekati bulan suci Ramadan, sejumlah warga masih bertahan di area pemakaman karena rumah mereka masih terendam air dan tidak layak huni.
Pemandangan memilukan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Tamiang yang turun langsung meninjau lokasi.
Tidur Berdampingan dengan Makam
Warga terpaksa mendirikan tenda-tenda darurat di atas lahan pemakaman yang memiliki dataran lebih tinggi. Mereka menyulap area tersebut menjadi tempat peristirahatan sementara, meskipun fasilitas sanitasi dan logistik sangat terbatas.
Kesulitan ini semakin terasa berat mengingat umat Muslim akan segera menyambut bulan Ramadan. Warga berharap dapat menjalankan ibadah puasa di hunian yang layak, bukan di pengungsian darurat yang jauh dari kata manusiawi.
PCNU Desak Pemerintah Gerak Cepat
Ketua PCNU Aceh Tamiang mengecam lambatnya penanganan pasca-bencana yang memaksa warga tinggal di tempat yang tidak semestinya. PCNU mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang untuk:
Mempercepat Penyaluran Bantuan: Memastikan stok makanan, obat-obatan, dan air bersih sampai ke titik pengungsian terpencil.
Menyediakan Relokasi Layak: Memindahkan warga dari area pemakaman ke fasilitas umum yang lebih bersih dan aman.
Solusi Jangka Panjang: Melakukan normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur agar banjir tidak terus berulang setiap tahun.
“Sangat tidak layak warga kita harus tidur di kuburan, apalagi ini menjelang Ramadan. Pemerintah harus hadir memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka,” tegas perwakilan PCNU dalam keterangannya.
Solidaritas Kemanusiaan Menjelang Ramadan
Selain mendesak pemerintah, PCNU juga mengajak masyarakat luas untuk mengulurkan tangan. Bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi para penyintas banjir yang kini kehilangan harta benda dan ruang hidup mereka.
Krisis kemanusiaan di Aceh Tamiang ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa mitigasi bencana dan penanganan pengungsi masih memerlukan evaluasi besar-besaran agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.[]









