Oleh: Dr. Teuku Maulana
Setiap kali banjir datang, perhatian kita tertuju pada rumah yang terendam, jalan yang rusak, serta lumpur yang menutup halaman. Namun setelah air surut dan kehidupan perlahan kembali berjalan, ada ancaman lain yang sering luput dari perhatian ancaman yang tidak terlihat, tetapi nyata bagi kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah leptospirosis.
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui urin tikus yang mencemari air, tanah, atau lumpur. Dalam situasi pascabanjir, risiko penularan meningkat karena genangan air bercampur dengan limbah, jamban dan septic tank terendam, serta sumber air bersih berpotensi tercemar. Seseorang dapat terinfeksi ketika kulit yang lecet terkena air banjir, saat membersihkan rumah tanpa pelindung, atau ketika menggunakan air yang belum diolah dengan baik.
Gejalanya sering kali menyerupai penyakit umum seperti demam berdarah atau tifoid: demam tinggi mendadak, nyeri otot terutama di betis, sakit kepala, mual, dan muntah. Pada kondisi yang lebih berat, infeksi ini dapat menyerang hati dan ginjal, bahkan membahayakan jiwa. Karena itu, kewaspadaan dan deteksi dini menjadi sangat penting, khususnya setelah bencana banjir.
Pada Desember 2025, Kabupaten Bireuen mengalami peningkatan curah hujan jauh di atas normal yang memicu luapan sungai dan genangan di sejumlah kecamatan. Selain merusak permukiman dan infrastruktur, banjir juga berdampak pada sistem sanitasi dan kualitas sumber air masyarakat. Sumur dangkal yang menjadi andalan kebutuhan sehari-hari termasuk yang paling rentan terdampak.
Kontaminasi Leptospira pada Sumber dan Tempat Penampungan Air
Pemeriksaan terhadap 37 sampel air dari lima desa memberikan gambaran yang cukup menenangkan sekaligus tetap mengingatkan kita untuk waspada. Sebagian besar sampel—baik dari sumur, genangan air, saluran air, kolam ikan, maupun berbagai tampungan air rumah tangga seperti bak mandi, tong air, dan air genteng—menunjukkan hasil negatif terhadap bakteri Leptospira.
Di Desa Kubu dan Desa Jangka, seluruh sampel air yang diperiksa dinyatakan negatif. Ini menunjukkan bahwa pada saat pengambilan sampel tidak terjadi kontaminasi pada sumber air, meskipun di Desa Jangka ditemukan tikus yang terinfeksi. Artinya, keberadaan tikus positif tidak selalu otomatis berarti sumber air tercemar. Kondisi sanitasi, perlindungan konstruksi sumur, serta waktu pengambilan sampel sangat memengaruhi hasil tersebut.
Namun demikian, di Kecamatan Juli, ditemukan satu sampel air sumur yang positif Leptospira. Temuan ini penting menjadi perhatian. Sumur merupakan sumber air yang sangat rentan, terutama jika konstruksinya tidak terlindungi dengan baik dan terpapar limpasan air banjir yang tercemar urin tikus. Air sumur yang terkontaminasi berpotensi menjadi jalur penularan apabila digunakan untuk mandi, mencuci, atau bahkan konsumsi tanpa pengolahan yang memadai.
Secara umum, genangan air, saluran air, kolam ikan, serta tampungan air rumah tangga lainnya menunjukkan hasil negatif pada saat pemeriksaan. Hal ini memberi harapan bahwa risiko kontaminasi tidak merata, tetapi tetap memerlukan pengawasan berkelanjutan.
Keterkaitan Tikus dan Sumber Air
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa risiko leptospirosis pascabanjir tidak berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh interaksi antara keberadaan tikus sebagai pembawa bakteri dan kerentanan sumber air terhadap kontaminasi. Lingkungan dengan pelumpuran ringan masih memungkinkan tikus bertahan dan beraktivitas, sehingga siklus bakteri dapat terus berlangsung. Di sisi lain, sumur yang tidak terlindungi dengan baik dapat menjadi media penularan kepada manusia.
Meskipun temuan positif relatif rendah, keberadaan tikus yang terinfeksi dan satu sumur yang terkonfirmasi positif tetap perlu diwaspadai. Leptospirosis adalah penyakit yang bisa berdampak serius, terutama dalam kondisi pascabanjir ketika masyarakat sedang dalam fase pemulihan.
Karena itu, respons terhadap banjir tidak cukup hanya membersihkan lumpur dan memperbaiki bangunan. Kita perlu memperbaiki dan melindungi konstruksi sumur, membiasakan pengolahan air sebelum digunakan, menjaga kebersihan lingkungan untuk mengendalikan populasi tikus, serta menggunakan alas kaki dan sarung tangan saat membersihkan sisa banjir.
Banjir secara umum sering terjadi di wilayah manapun di Indonesia , Namun dengan pengetahuan, kewaspadaan, dan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah, dampak kesehatannya dapat ditekan. Ketahanan sejati bukan hanya soal membangun kembali yang rusak, tetapi juga memastikan tidak ada penyakit yang tumbuh diam-diam setelah bencana berlalu.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan lingkungan berarti menjaga kehidupan itu sendiri.[]
))* Dosen Fakultas Kedokteran – Program Studi Magister Kedokteran Tropis
Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh









