SEANTERONEWS.com – Ketegangan hebat menyelimuti wilayah barat laut Pakistan pada Sabtu (31/1/2026). Ribuan penduduk dilaporkan meninggalkan rumah mereka secara massal setelah peringatan mendesak disiarkan melalui pengeras suara masjid mengenai kemungkinan adanya operasi militer besar-besaran dalam waktu dekat.
Eksodus ini dipicu oleh instruksi dari otoritas keamanan setempat yang menyarankan warga sipil untuk segera mengevakuasi diri guna menghindari zona konflik potensial antara pasukan keamanan dan kelompok militan di wilayah tersebut.
Suasana mencekam dilaporkan terjadi di beberapa distrik di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Warga yang panik terlihat memadati kendaraan pribadi dan truk sewaan dengan membawa barang bawaan seadanya.
“Pengumuman dari masjid sangat jelas: kami harus pergi demi keselamatan nyawa kami. Suasananya sangat menakutkan, semua orang berusaha mencari tempat aman,” ungkap salah satu warga yang mengungsi ke arah Peshawar.
Meskipun militer Pakistan belum merinci skala operasi tersebut, pengamat keamanan meyakini bahwa langkah ini merupakan respons atas meningkatnya serangan teroris terhadap pos-pos keamanan dalam beberapa pekan terakhir.
Mengamankan wilayah perbatasan dan menghancurkan sel-sel persembunyian militan yang diduga kembali aktif.
Perpindahan penduduk secara mendadak ini menimbulkan kekhawatiran akan krisis pengungsi internal (IDP) baru di tengah musim dingin yang ekstrem.
Eksodus ini meninggalkan banyak desa dalam keadaan kosong. Para petani terpaksa meninggalkan ternak dan hasil panen mereka, yang merupakan satu-satunya sumber penghidupan di wilayah agraris tersebut. Lembaga kemanusiaan kini mulai bersiaga untuk menyediakan kamp-kamp darurat bagi para pengungsi yang tidak memiliki kerabat di wilayah kota.
Juru bicara militer dalam pernyataan singkatnya meminta masyarakat untuk tetap tenang dan mematuhi arahan dari otoritas keamanan demi meminimalkan jatuhnya korban sipil. Pemerintah daerah juga telah disiagakan untuk mengelola arus pengungsi agar tidak menyebabkan kemacetan total di jalur-jalur logistik utama.
Hingga laporan ini diturunkan, belum ada batas waktu yang pasti mengenai berapa lama operasi militer tersebut akan berlangsung dan kapan warga diperbolehkan kembali ke kediaman mereka.[]









