SEANTERONEWS.com – Ketegangan diplomatik antara dua negara bertetangga, Amerika Serikat dan Kanada, mencapai titik baru yang mengkhawatirkan. Pemerintah Amerika Serikat secara terbuka melontarkan peringatan keras kepada Kanada, menyatakan bahwa Ottawa akan “sangat menyesal” atas keputusan mereka yang mengizinkan kendaraan listrik (EV) asal China membanjiri pasar domestik mereka.
Langkah Kanada ini dinilai sebagai ancaman langsung terhadap strategi besar AS dalam memutus ketergantungan rantai pasok otomotif dari Negeri Tirai Bambu.
Berdasarkan laporan terbaru per 16 Januari 2026, Gedung Putih merasa keberatan dengan kebijakan Kanada yang dianggap melunakkan tarif bagi produsen EV China.
AS menuding perusahaan China mendapatkan subsidi besar-besaran dari pemerintahnya, sehingga bisa menjual mobil dengan harga “predator” yang mematikan industri otomotif lokal.
Kendaraan listrik modern dilengkapi dengan sensor dan perangkat lunak canggih. AS khawatir data sensitif warga Amerika Utara bisa mengalir ke Beijing melalui infrastruktur kendaraan tersebut.
AS khawatir Kanada akan menjadi “pintu belakang” bagi produk China untuk masuk ke pasar Amerika Serikat tanpa terkena tarif tinggi yang telah ditetapkan Washington.
Di sisi lain, pemerintah Kanada membela keputusannya dengan alasan keberlanjutan ekonomi dan target emisi karbon.
Pemerintah Kanada berargumen bahwa konsumen mereka membutuhkan akses ke kendaraan listrik yang lebih murah untuk mempercepat transisi energi hijau.
Ottawa menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk menentukan kebijakan perdagangan luar negeri yang paling menguntungkan bagi kepentingan ekonomi domestik mereka sendiri.
Para analis ekonomi memprediksi bahwa perselisihan ini bisa memicu keretakan dalam hubungan dagang Amerika Utara. Jika Kanada tetap teguh pada keputusannya, AS kemungkinan besar akan mengambil langkah balasan:
Pemeriksaan lebih ketat terhadap kendaraan yang diproduksi di Kanada untuk memastikan tidak ada komponen China yang “terselubung”.
Kemungkinan pengenaan tarif tambahan bagi produk-produk otomotif asal Kanada yang masuk ke wilayah AS.
Perang kata-kata ini menunjukkan betapa krusialnya industri mobil listrik dalam geopolitik dunia saat ini. China, yang saat ini memimpin dalam hal teknologi baterai dan biaya produksi, terus berupaya mencari celah di pasar Barat di tengah blokade tarif yang dipimpin oleh AS.
“Kanada sedang bermain api. Di satu sisi mereka butuh investasi hijau, tapi di sisi lain mereka mempertaruhkan hubungan paling penting dengan mitra dagang terbesar mereka,” ungkap seorang pengamat ekonomi internasional dalam ulasannya.









