SEANTERONEWS.com – Sebuah insiden tragis melanda sisi lain dari kemewahan Distrik Gangnam, Seoul, Korea Selatan. Kebakaran hebat dilaporkan berkobar di kawasan pemukiman padat penduduk atau daerah kumuh Guryong pada Jumat pagi (16/1). Api dengan cepat merambat di antara bangunan-bangunan darurat, memaksa evakuasi massal terhadap ratusan warga di tengah cuaca musim dingin yang ekstrem.
Kawasan Guryong dikenal luas sebagai wilayah kumuh terakhir yang tersisa di distrik terkaya di Korea Selatan, menciptakan kontras yang tajam antara gedung pencakar langit dan pemukiman semi-permanen.
Menurut laporan dari kantor berita Yonhap yang dikutip oleh otoritas setempat, api mulai terlihat pada dini hari saat sebagian besar warga masih tertidur.
Karena bangunan di Guryong mayoritas terbuat dari material yang mudah terbakar seperti plastik, kayu, dan kardus, api menyebar dengan sangat agresif.
Lebih dari ratusan petugas pemadam kebakaran, didukung oleh helikopter dan puluhan armada mobil pemadam, dikerahkan ke lokasi untuk menjinakkan si jago merah.
Suhu yang membeku menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam mengoperasikan peralatan dan bagi warga yang terpaksa keluar rumah tanpa persiapan memadai.
Otoritas keamanan Seoul segera menetapkan status darurat di wilayah tersebut guna mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.
Ratusan Warga Mengungsi: Pemerintah distrik telah menyiapkan tempat penampungan sementara di fasilitas umum dan sekolah-sekolah terdekat bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.
Kerusakan Properti: Puluhan unit rumah dilaporkan hangus total. Hingga saat ini, petugas masih melakukan penyisiran untuk memastikan apakah ada korban yang terjebak di dalam reruntuhan.
Kekhawatiran Polusi: Asap hitam pekat menyelimuti sebagian wilayah Gangnam, memicu peringatan kualitas udara bagi warga di sekitar lokasi kejadian.

Desa Guryong sering disebut sebagai “simbol ketimpangan” di Korea Selatan. Wilayah ini telah berulang kali mengalami insiden kebakaran dalam satu dekade terakhir karena:
Infrastruktur Listrik yang Buruk: Sambungan kabel yang tidak standar sering memicu hubungan arus pendek.
Kepadatan Bangunan: Jarak antar rumah yang sangat rapat membuat api sangat sulit dikendalikan setelah muncul.
Kurangnya Akses Jalan: Jalan sempit menyulitkan mobil pemadam kebakaran besar untuk masuk ke titik pusat api.
Presiden dan jajaran menteri terkait telah memerintahkan pengerahan sumber daya maksimal untuk menangani dampak kebakaran ini. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan memberikan bantuan logistik bagi para korban yang terdampak di tengah cuaca ekstrem Januari 2026.[]









