SEANTERONEWS.com – Pasar saham Uni Emirat Arab (UEA) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan hasil yang bervariasi pada sesi pertama. Ketidakpastian ini muncul di tengah mencuatnya laporan mengenai keretakan hubungan diplomatik dan ekonomi yang semakin dalam antara dua raksasa Teluk, Arab Saudi dan UEA.
Indeks Dubai tercatat mengalami sedikit penguatan, sementara bursa Abu Dhabi justru tertekan. Para analis pasar menyebut bahwa sentimen investor kini sangat dipengaruhi oleh rivalitas kepemimpinan ekonomi di kawasan Timur Tengah.
Perselisihan Arab Saudi-UEA: Apa yang Terjadi?
Keretakan yang disebut sebagai “Saudi-UAE Rift” ini dipicu oleh persaingan ketat dalam menarik investasi asing dan dominasi pasar energi global. Kebijakan Arab Saudi yang semakin agresif untuk menjadikan Riyadh sebagai pusat bisnis tunggal di kawasan tersebut mulai memberikan tekanan nyata pada stabilitas pasar modal UEA.
“Investor saat ini sedang menimbang risiko politik. Ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi bukan lagi sekadar kompetisi bisnis biasa, melainkan pergeseran struktur kekuatan ekonomi di Teluk,” ujar seorang pengamat pasar finansial regional.
Pergerakan Indeks Saham
-
Dubai Financial Market (DFM): Bergerak fluktuatif namun berhasil ditutup di zona hijau tipis, didorong oleh sektor properti.
-
Abu Dhabi Securities Exchange (ADX): Mengalami koreksi akibat pelemahan pada saham-saham perbankan dan energi yang sensitif terhadap isu geopolitik regional.
Masa Depan Investasi di Kawasan Teluk
Awal tahun 2026 diprediksi akan menjadi periode penuh tantangan bagi pasar modal di Timur Tengah. Jika perselisihan ini berlanjut, para manajer dana global kemungkinan akan bersikap lebih hati-hati (wait and see) dalam menempatkan modal mereka di kawasan tersebut.
Kini, perhatian tertuju pada langkah-langkah diplomatik yang mungkin diambil oleh kedua negara untuk meredakan ketegangan, atau apakah tahun 2026 akan menjadi babak baru “perang dingin” ekonomi di jazirah Arab.[]









