BREAKING

TEKNOLOGI

Etika dan Hak Cipta di Balik Tren Reinkarnasi Digital Selebriti via AI

SEANTERONEWS.com – Kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah mencapai batas yang sebelumnya dianggap mustahil, namun kini justru memicu badai kontroversi. Fenomena “AI Resurrection” atau membangkitkan kembali selebriti yang telah tiada dalam bentuk digital kini tengah menjadi sorotan tajam dan memicu kemarahan di berbagai kalangan.

Dari layar film hingga konser hologram, suara dan wajah para bintang yang sudah wafat kini “dihidupkan” kembali. Namun, di balik kecanggihannya, muncul pertanyaan besar: Apakah ini inovasi, atau sekadar eksploitasi tanpa izin?

Laporan terbaru dari TechXplore menyoroti bagaimana teknologi deepfake dan generative AI memungkinkan perusahaan untuk menciptakan konten baru dari orang yang sudah meninggal. Hal ini bukan lagi sekadar penghormatan, melainkan sudah menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan.

“Ini bukan tentang melestarikan warisan mereka; ini tentang mengubah manusia menjadi properti digital yang bisa diperas selamanya,” ungkap salah satu pakar hukum privasi dalam laporan tersebut.

Banyak keluarga dari tokoh-tokoh terkenal mulai menyuarakan kegelisahan mereka. Permasalahan utamanya meliputi:

  • Penyalahgunaan Citra: Menggunakan wajah artis wafat untuk mempromosikan produk yang mungkin tidak akan pernah mereka dukung semasa hidup.

  • Hak Milik Digital: Ketidakjelasan hukum tentang siapa yang memiliki “jiwa digital” seseorang setelah mereka meninggal.

  • Dampak Psikologis: Rasa duka keluarga yang terusik akibat melihat versi digital orang tercinta yang bertingkah laku sesuai perintah algoritma.

Hingga saat ini, regulasi global masih tertatih-tatih mengejar kecepatan perkembangan AI. Sebagian besar hukum hak citra (right of publicity) berbeda-beda di setiap negara, meninggalkan celah bagi perusahaan teknologi untuk memanfaatkan persona digital tanpa persetujuan eksplisit dari ahli waris.

Para kritikus menyebut fenomena ini sebagai “pembajakan identitas pascakematian” yang dapat merusak integritas sejarah dan kehormatan sang artis.

Dunia kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan cara baru untuk mengobati rindu penggemar. Di sisi lain, tanpa batasan etika yang jelas, kita berisiko menciptakan masa depan di mana kematian pun tidak bisa memberikan ketenangan dari hiruk-pikuk industri hiburan.

Isu “AI Resurrection” ini adalah pengingat bahwa hanya karena kita bisa melakukan sesuatu dengan teknologi, bukan berarti kita seharusnya melakukannya. Perlu adanya konsensus global untuk melindungi hak-hak mereka yang sudah tidak lagi bisa membela diri di dunia nyata.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts