Jakarta, 22 Oktober 2025 — Skandal pengadaan laptop untuk sekolah kembali mencuat setelah penyidik mulai menyasar orang-orang terdekat mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Penyidikan kini mengarah ke lingkaran dalam kekuasaan, atau yang dikenal sebagai “ring 1” Nadiem.
Dua sosok penting yang baru-baru ini dipanggil adalah staf khusus berinisial SNP dan seorang direktur perusahaan swasta berinisial NYP. Pemanggilan ini menunjukkan penyidik mendalami peran elite di balik proyek pengadaan Chromebook senilai triliunan rupiah.
Total anggaran proyek mencapai Rp 9,3 triliun, dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 1,98 triliun.
Lima orang sudah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk pejabat kementerian, konsultan teknologi, hingga eks staf khusus.
Sudah ada pengembalian dana dari pihak kementerian dan vendor, yang diduga merupakan keuntungan tidak sah dari proyek ini.
Pemanggilan terhadap staf dekat mantan menteri menjadi sinyal serius bahwa skandal ini bukan hanya soal pengadaan teknis, tetapi menyentuh pengambil kebijakan inti. Bila terbukti adanya peran aktif dari “ring 1”, ini bisa mengguncang reputasi tokoh-tokoh besar dan memperdalam krisis kepercayaan terhadap proyek digitalisasi pendidikan.
Kasus ini menjadi peringatan atas lemahnya pengawasan dana pendidikan. Program digitalisasi yang seharusnya memajukan sekolah justru disusupi kepentingan pribadi. Kepercayaan publik terhadap program transformasi pendidikan bisa terganggu jika kasus ini tak diusut tuntas.
Pemanggilan anggota tim khusus Nadiem menandakan penyidik memperluas lingkup dari hanya pihak‑vendor dan pejabat teknis menjadi orang‑orang terdekat mantan menteri yang dinilai memiliki akses dan pengaruh dalam pengambilan keputusan. Dengan kata lain, penyidikan menuju ke “ring 1” (inti sangat dekat) Nadiem.
Apabila terbukti keterlibatan Nadiem atau orang‑terdekatnya secara langsung dalam pengambilan keuntungan yang tidak sah, maka dampaknya bukan hanya hukum (pidana korupsi) tetapi juga politik dan reputasi lembaga pendidikan serta pemerintahan.
Implikasi bagi publik dan sistem pendidikan
Untuk publik: Kasus ini mencerminkan tantangan dalam pengelolaan dana pendidikan berskala besar dan kebutuhan akan transparansi serta akuntabilitas yang lebih kuat.
Untuk sistem pendidikan: Karena proyek ini terkait digitalisasi (pengadaan Chromebook), kegagalan pengelolaan bisa berdampak pada efektivitas program dan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap transformasi digital di sektor pendidikan.
Meskipun Nadiem sudah ditetapkan sebagai tersangka, proses hukum masih berlangsung dan setiap pihak berhak atas praduga tak bersalah hingga ada putusan pengadilan.
Kejagung menyatakan bahwa pengembalian uang dilakukan dari pihak kementerian maupun vendor, yang mengindikasikan upaya mitigasi atau pembenahan internal
- Penyidikan ini dilakukan dalam periode 2019‑2022, sehingga mencakup perubahan kebijakan dan struktur kementerian yang terjadi selama periode tersebut.[]










