Panggilan untuk Refleksi Ketimbang Polarisasi
SEANTERONEWS.com – Adhie Massardi, mantan juru bicara Presiden ke-4 RI Gus Dur, menyuarakan keprihatinannya terhadap dinamika demonstrasi di Indonesia. Ia menekankan bahwa bangsa ini terlalu banyak membuang energi hanya untuk mencari “dalang” atau penyebab unjuk rasa, alih-alih menggunakan kekuatan bersama untuk mendorong perubahan nyata dan konstruktif.
Pelajaran dari Sejarah: Korea Selatan dan Revolusi Eropa sebagai Inspirasi
Adhie mencontohkan transformasi di Korea Selatan dan Revolusi Prancis sebagai bukti bahwa kemajuan sebuah bangsa lahir dari aksi kolektif yang diarahkan pada aksi nyata — bukan retorika atau kontroversi. Ia menyoroti bahwa keunggulan kedua bangsa tersebut bukan karena mereka ahli mencari dalang, tapi karena fokus mereka pada reformasi sosial dan politik.
Kritik atas Kultur Mencari Musuh, Bukan Solusi
Menurut Adhie, kecenderungan mencari sosok yang disalahkan sebagai dalang demonstrasi telah membuang waktu hampir satu abad perjalanan bangsa. Ia mengatakan, “Energi bangsa telah terkuras karena terlalu sering memburu provokator, tanpa pernah memikirkan solusi sistemik.”
Dilema Demonstrasi Tanpa Aksi Nyata
Adhie juga mengkritik dominasi narasi demonstrasi sebagai bentuk ekspresi rakyat. Saat unjuk rasa dijadikan simbol perubahan tanpa langkah lanjutan yang nyata — seperti reformasi lembaga, kebijakan publik, atau dialog produktif — maka demonstrasi hanya menjadi simbol tanpa substansi.[]











