Jakarta – Aksi massa yang menuntut hak atas demokrasi ternyata berujung tragis di kediaman anggota DPR RI, Ahmad Sahroni, di Tanjung Priok. Pada Sabtu (30 Agustus 2025), rumah Sahroni tak hanya digeruduk, tetapi juga dijarah habis-habisan oleh massa—tak terkecuali mobil-mobil mewah seperti Tesla dan Porsche yang bahkan turut dipreteli oleh para perusuh.
Kejadian Brutal yang Viral di Media Sosial
-
Serangan ini terjadi secara masif dan bersamaan dengan unjuk rasa yang meluas.
-
Rekaman video di media sosial menunjukkan adegan warga merusak dan merampas berbagai barang mewah dari dalam rumah, termasuk televisi, perabot antik, hingga mainan koleksi bernilai tinggi.
-
Salah satu koleksi yang diambil adalah Bearbrick edisi special senilai ± Rp131 juta. Aksi penjarahan ini digelar layaknya pasar gelap dadakan di tengah konflik politik.
Dampak Kerusakan Properti dan Simbolisme Kekerasan
| Jenis Barang Dijarah | Contoh Barag Spesifik |
|---|---|
| Mobil Mewah | Tesla dan Porsche hingga Lexus turut dirusak |
| Mainan Koleksi Eksklusif | Bearbrick bernilai ratusan juta rupiah |
| Perabotan Rumah & Elektronik | Televisi, lukisan, kulkas, perabot lainnya |
-
Peristiwa ini tidak hanya merusak properti mahal, tetapi juga menjadi simbol eskalasi kekerasan yang mencoreng batas antara protes dan kriminalitas.
-
Warga yang mengambil barang tampak tidak memiliki koordinasi aparat—menunjukkan kehampaan respons keamanan dalam menegakkan hukum di tengah kerusuhan.
Reaksi Publik & Isu Etika Politik
-
Kerusuhan ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Sahroni yang menyebut demonstran sebagai “orang tolol sedunia”—pernyataan yang memicu kemarahan luas dan kredibilitas politiknya hancur di mata publik.
-
Netizen mengecam tindakan massa, menyayangkan turunnya norma sipil menjadi kekerasan destruktif.
-
Sementara sebagian mendefinisikan penjarahan sebagai bentuk protes ekstrem akibat kegagalan komunikasi politik.
Kesimpulan
Insiden penjarahan rumah Ahmad Sahroni merefleksikan kilas balik sikap publik yang beralih dari aspirasi politik menjadi destruktif. Ketika simbol politik dicampur dengan bahan emosional, batas antara protes damai dan vandalisme melebur. Kejadian ini menyoroti urgensi rekonstruksi norma hukum, etika demonstrasi, dan urgensi dialog terbuka antara elite dan rakyat.[]











