Seanteronews.com – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), meninjau Pelabuhan Krueng Geukueh di Lhokseumawe untuk menyongsong dibukanya jalur pelayaran langsung ke Penang, Malaysia, yang diharapkan segera berjalan dalam waktu dekat
Visi ini bukan sekadar promosi, tapi strategi nyata memperkuat konektivitas Aceh secara regional. Dengan adanya jalur laut internasional ke Penang, diharapkan terjadi peningkatan aliran wisatawan serta akselerasi ekspor produk lokal — khususnya hasil kebun, perikanan, dan CPO — ke pasar Malaysia. Di sisi lain, warga Malaysia juga bisa mengakses Aceh langsung via feri dari Penang, menjadikan Aceh destinasi wisata laut yang mudah dijangkau.
Potensi Ekonomi Berkelanjutan
Pelabuhan Krueng Geukueh sudah memiliki sejarah kuat sebagai gerbang perdagangan sejak tsunami 2004. Kini, setelah revitalisasi dan dukungan infrastruktur, perannya diperluas untuk rute penumpang dan ekspor modern. Jalur ke Penang ini akan memperkuat rantai suplai pangan dan komoditas, sekaligus memperkenalkan Aceh sebagai pusat wisata baru di Malaka.
Manfaat Sosial dan Kultural yang Luas
Lebih dari sekadar urusan ekonomi, rute pelayaran ini juga menyemarakan hubungan budaya dan emosional antara Aceh dan Malaysia. Gubernur Mualem menekankan pentingnya mempererat silaturahmi dengan saudara di seberang Selat Malaka, menjadikan jalur ini sebagai ikon persaudaraan antar-negara.
Langkah Teknis Menuju Realisasi Segera
Pemprov Aceh telah menginstruksikan penyempurnaan dermaga dan fasilitas terminal di Pelabuhan Krueng Geukueh. Kolaborasi dengan Pelindo I dan otoritas pelabuhan nasional ditingkatkan untuk mempercepat perizinan, keamanan rute laut, serta kesiapan armada feri. Targetnya: pelayaran langsung ini mulai beroperasi paling lambat akhir Juli hingga awal Agustus—menindaklanjuti komitmen sebelumnya.
Kesimpulan
Inisiatif jalur pelayaran langsung Aceh–Penang mencerminkan transformasi strategis sektor transportasi dan perdagangan lokal. Langkah ini membuka jendela akses internasional baru, memperkuat ekonomi regional, dan mempererat hubungan sosial budaya antar-masyarakat lintas negara. Jika terealisasi, Aceh siap jadi pusat konektivitas merata di Selat Malaka.[]









