Oleh : Dr. Tgk. Saiful Bahri, MA**
“Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya” (QS. An-Nahl: 95).
Ambisi pada dasarnya adalah energi yang bisa mendorong manusia untuk maju. Tanpa ambisi, seseorang mungkin akan stagnan dan tidak berkembang. Namun, ketika ambisi berubah menjadi buta, ia dapat mengubah manusia menjadi “serigala” bagi sesamanya. Demi kursi, pangkat, dan jabatan, tidak sedikit orang rela mengorbankan prinsip, harga diri, bahkan orang-orang yang seharusnya ia jaga.
Fenomena ini bukan hal baru. Dari masa ke masa, kita bisa melihat bagaimana ambisi terhadap jabatan membuat sebagian orang rela menempuh jalan kotor, merusak dirinya, bahkan menyakiti orang lain. Padahal, Islam mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan sekadar kehormatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang menunaikan kewajiban kepemimpinan dan menjalankannya dengan benar.” (HR. Muslim)
Lalu, apa saja bentuk penyimpangan yang sering dilakukan manusia demi jabatan? Berikut tujuh hal yang patut kita renungkan agar tidak terjebak di dalamnya:
1. Mengorbankan Kebenaran
Demi mempertahankan posisi, ada yang rela berbohong, menutup-nutupi fakta, bahkan memutarbalikkan kebenaran. Padahal, kejujuran adalah fondasi utama seorang pemimpin. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42).
2. Menjilat Atasan
Salah satu penyakit yang sering muncul adalah sikap menjilat. Demi disukai atasan, seseorang rela menutup mata terhadap kesalahan, bahkan menyanjung berlebihan meski tahu itu tidak benar. Padahal, sikap ini hanya melahirkan pemimpin zalim dan pengikut yang munafik.
3. Menjatuhkan Teman Sejawat
Persaingan jabatan sering membuat manusia tega “menusuk dari belakang”. Fitnah, gosip, hingga sabotase dilakukan demi menyingkirkan pesaing. Padahal, ukhuwah Islamiyah dan kerja sama jauh lebih berharga daripada kursi jabatan yang sementara.
4. Menghalalkan Segala Cara
Banyak yang rela menempuh jalan kotor: menyuap, memanipulasi, bahkan bersekongkol dengan pihak zalim. Prinsip “tujuan menghalalkan cara” dijadikan pegangan. Padahal, dalam Islam, kebaikan tidak pernah lahir dari kebatilan.
5. Mengorbankan Integritas Pribadi
Demi karier, ada yang menutup hati nurani. Ia tahu apa yang dilakukan salah, tetapi memilih diam atau ikut arus. Akhirnya, integritas pribadi terkikis hingga hatinya menjadi tumpul dari kebenaran.
6. Mengorbankan Keluarga
Tidak sedikit yang rela mengorbankan keluarga demi jabatan. Waktu, kasih sayang, bahkan keharmonisan rumah tangga terabaikan. Padahal, keluarga adalah amanah pertama sebelum jabatan publik.
7. Mengkhianati Tuhan
Yang paling berbahaya: ada yang rela meninggalkan iman demi jabatan. Ia lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan ridha Allah. Padahal, jabatan hanyalah sementara, sedangkan pertanggungjawaban kepada Allah bersifat kekal.
Jabatan itu baik jika diperoleh dan dijalankan dengan benar. Ia bisa menjadi sarana ibadah dan ladang amal. Namun, jabatan bukanlah segalanya. Lebih mulia kehilangan jabatan karena memegang kebenaran, daripada mendapatkannya dengan cara yang kotor.
Jabatan bisa hilang sewaktu-waktu. Tetapi harga diri, integritas, dan iman adalah warisan abadi yang tidak boleh tergadai. Jangan sampai demi jabatan, kita kehilangan jati diri dan menyakiti orang lain.[]
**). Penulis adalah Spn Aceh Di Bale Seumike










