INTERNASIONAL

Kepala Staf Iran Peringatkan Israel dan Tegaskan Persatuan Nasional

Mayjen Abdolrahim Mousavi peringatkan Israel agar tidak mengulang kesalahan, tegaskan komitmen prinsipil Iran dalam menjaga kedaulatan dan membela Palestina.

SEANTERONEWS.com – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, mengeluarkan pernyataan tegas yang memperingatkan Israel untuk tidak melakukan kesalahan lagi dalam konflik yang sedang berlangsung. Dalam pidatonya di acara peringatan syuhada di Teheran, Mousavi menegaskan bahwa Republik Islam Iran telah menunjukkan kekuatan militernya dan siap memberikan balasan keras jika Israel kembali melakukan agresi.

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional pasca serangan udara Israel pada Juni 2025 yang menewaskan sejumlah jenderal tinggi Iran, termasuk Mohammad Bagheri dan Gholam Ali Rashid. Sebagai pengganti langsung dari Bagheri, Mousavi kini menjadi tokoh sentral dalam strategi militer Iran. Ia menyatakan bahwa “rezim Zionis” telah mencapai batasnya dan akan dihancurkan jika kembali memicu konflik.

Mousavi juga menyoroti pentingnya persatuan nasional Iran dalam menghadapi tekanan asing. Ia menyebutkan bahwa para musuh Iran—terutama Amerika Serikat dan Israel selalu berusaha menggoyahkan stabilitas internal negara. Namun, kekuatan rakyat dan solidaritas antara militer dan warga sipil menjadi benteng utama Republik Islam Iran dalam menjaga eksistensinya.

Dalam pidatonya, Mousavi kembali menegaskan bahwa dukungan Iran terhadap Palestina adalah komitmen prinsipil yang tidak bisa dinegosiasikan. Menurutnya, Iran tidak akan pernah meninggalkan rakyat Palestina, bahkan di tengah tekanan internasional dan sanksi ekonomi. “Ini bukan isu kebijakan luar negeri biasa. Ini adalah bagian dari identitas kami,” tegasnya.

Sejak gencatan senjata diumumkan pada akhir Juni 2025, Iran tetap menunjukkan sikap waspada. Mousavi mengaku tidak mempercayai komitmen Israel terhadap kesepakatan damai tersebut. Ia bahkan menyebut bahwa Israel sedang dalam kondisi terdesak dan hanya menunggu waktu untuk kolaps jika kembali melakukan tindakan agresif terhadap Iran atau sekutunya.

Di sisi lain, kondisi dalam negeri Iran juga mengalami tekanan. Selama konflik dengan Israel, lebih dari 700 orang ditahan atas dugaan keterlibatan dalam aktivitas spionase atau tindakan kontra-revolusi. Kelompok-kelompok HAM mengkritik langkah keras pemerintah Iran yang dianggap mempersempit ruang kebebasan sipil, meskipun otoritas menyatakan bahwa langkah itu diperlukan untuk menjaga stabilitas nasional.

Pernyataan Mousavi sekaligus memperlihatkan dua wajah strategi Iran: kekuatan militer eksternal yang siap menghadapi ancaman luar, dan penguatan kendali internal melalui semangat nasionalisme dan pembatasan terhadap potensi gangguan domestik. Dalam konteks geopolitik Timur Tengah, sikap ini menunjukkan bahwa Iran belum mundur, bahkan setelah menghadapi pukulan berat dari operasi militer Israel.[]

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts