PALANGKA RAYA – Bencana kabut asap akibat memburuknya eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tak lagi sekadar menjadi krisis domestik. Fenomena ini kini membetot atensi luas dari komunitas internasional, terutama setelah langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berubah menjadi warna oranye pekat yang mencekam.
Salah satu media terkemuka asal Amerika Serikat, The Washington Post, secara khusus menyoroti visual apokaliptik tersebut melalui unggahan video di platform X (sebelumnya Twitter). Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup, media tersebut melaporkan bahwa Indeks Kualitas Udara (AQI) di wilayah tersebut sempat menembus angka 1.200, sebuah rekor yang berada jauh di atas ambang batas toksisitas ekstrem.
Kondisi langit yang memerah itu bukanlah sekadar ilusi optik, melainkan indikator dari udara yang sangat beracun. Data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merekam bahwa pada 14 Oktober 2026 pukul 12.00 WIB, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Palangka Raya melonjak drastis hingga 2.512 mikrogram per meter kubik. Sebagai perbandingan, ambang batas berbahaya yang ditoleransi tubuh manusia hanyalah 250,5 mikrogram per meter kubik.
Lebih memperihatinkan lagi, laporan kepolisian pada 15 Oktober mengonfirmasi bahwa masyarakat Palangka Raya telah menghirup udara kategori “Berbahaya” ini selama 37 hari berturut-turut tanpa jeda.
Krisis Kesehatan dan Efek Domino Regional
Dampak dari masifnya karhutla di Indonesia ini tak ayal menciptakan efek domino lintas negara. Kantor berita Reuters merilis laporan pada 14 Oktober yang menyebutkan bahwa Singapura mencatat tingkat polusi PM2.5 terburuknya sepanjang tahun ini di angka 284.
Invasi kabut asap juga memaksa Pemerintah Malaysia menutup operasional sekolah di sejumlah negara bagian. Bahkan, negara tetangga Timor Leste harus mengambil langkah darurat dengan menangguhkan aktivitas belajar mengajar tatap muka selama tiga hari demi melindungi anak-anak dari ancaman gangguan pernapasan.
Di dalam negeri, imbas kesehatan akibat bencana yang diperparah oleh fenomena kemarau ekstrem El Niño ini sangat fatal. Tercatat lebih dari 283.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah dilaporkan menyebar di tujuh provinsi terdampak. Kabut asap pekat ini turut melumpuhkan denyut nadi ekonomi, menghentikan transportasi, hingga merampas hak pendidikan anak-anak.
Manuver Pemerintah dan Tantangan Lahan Gambut
Menghadapi krisis lingkungan ini, pemerintah pusat terus menggenjot operasi pemadaman terpadu. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa armada besar berisikan lebih dari 60.000 personel gabungan telah diterjunkan ke garis depan, dengan titik berat operasi di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.
Hingga pertengahan Oktober, tim satgas masih berjibaku memadamkan titik api aktif yang melahap sekitar 639 hektare lahan di enam provinsi prioritas. Taktik yang dikerahkan mencakup serangan darat, pengeboman air dari udara (water bombing), hingga rekayasa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk memancing hujan buatan.
Kendati demikian, petugas menghadapi lawan yang tidak terlihat: api di bawah lahan gambut. Sifat tanah gambut yang mengering bertindak layaknya spons bahan bakar. Api bisa merayap di bawah permukaan tanah tanpa terdeteksi dan sangat sulit dipadamkan, sementara asap tebal yang dihasilkannya memotong jarak pandang armada udara hingga ke titik nol.
Pemerintah menyadari bahwa pemadaman parsial bukanlah jawaban akhir. Rencana besar restorasi gambut mulai dari pembasahan kembali lahan (rewetting) hingga perbaikan sistem tata kelola kanal tengah dikebut.
Di sisi lain, para pakar ekologi mengingatkan bahwa lingkaran setan karhutla ini hanya bisa diputus melalui penegakan hukum yang tumpul ke atas, pengawasan ketat terhadap korporasi yang melakukan pembukaan lahan slash and burn (tebang dan bakar), serta komitmen jangka panjang dalam memulihkan ekosistem gambut. Sorotan tajam dunia atas langit oranye di Kalimantan seharusnya menjadi alarm terakhir bahwa karhutla bukan lagi sekadar musibah tahunan, melainkan krisis kemanusiaan yang mendesak untuk segera diakhiri.[]











