SEANTERONEWS.com – Ganasnya rekam jejak digital kembali memakan “korban” di panggung politik Tanah Air. Kali ini, politisi muda Tsamara Amany harus menghadapi gelombang kritik dan cibiran keras dari warganet usai pernyataan masa lalunya mendadak kembali beredar luas di berbagai platform media sosial.
Kontroversi ini bermula dari unggahan akun Instagram @corongnetizenindonesia belum lama ini. Akun tersebut memutar kembali memori publik pada sebuah pernyataan tegas Tsamara di tahun 2018 silam. Kala itu, ia dengan lantang menyuarakan penolakannya untuk mendukung figur calon presiden tertentu yang kini menjadi kepala negara dengan alasan rekam jejak masa lalu yang dianggap kelam.
Namun, lanskap politik nyatanya berjalan sangat dinamis. Berbanding terbalik dengan idealisme yang digaungkannya enam tahun lalu, sang politisi muda justru berbalik arah (U-turn) seratus delapan puluh derajat. Pada kontestasi Pilpres terakhir, ia berada di garda terdepan sebagai pendukung figur yang dahulu ditentangnya.
Puncak dari manuver politik tersebut adalah saat ia diangkat secara resmi masuk ke dalam lingkaran Istana, menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sejak akhir tahun lalu.
Banjir Cibiran dan Cap ‘Penjilat’
Transformasi drastis dari seorang kritikus oposisi menjadi pejabat ring satu kekuasaan ini sontak memantik reaksi sinis dari publik siber. Mayoritas warganet menilai langkah pragmatis tersebut sebagai bentuk inkonsistensi yang mencederai integritas seorang politisi muda.
Kolom komentar di unggahan viral tersebut seketika menjelma menjadi ruang peradilan sosial. Beragam satire, ejekan, hingga tudingan menohok dialamatkan kepada Stafsus Menpora tersebut.
Salah seorang pengguna dengan akun @aananas2 meninggalkan komentar singkat yang bernada ejekan spontan, “Koclok 🤣🤣🤣,” tulisnya mengomentari perubahan sikap sang tokoh.
Nada sindiran yang lebih musikal namun satir dilontarkan oleh akun @gofan110. Ia menganalogikan manuver politik Tsamara ibarat orang yang sedang menari tak tentu arah. “Serong kanan….serong kiri …la..la..la .la ..la. Laa…la la…laaaa,” cetusnya.
Kekecewaan publik yang lebih mendalam disuarakan secara frontal oleh akun @rendijr.918. Ia tak segan-segan mempertanyakan moral politik sang tokoh. “Tsamara ini penjilat ulung,” tandasnya dengan nada geram.
Tak berhenti di situ, ada pula warganet yang menyeret nama rekan seperjuangan Tsamara di masa lalu. Akun @inggandika melontarkan pertanyaan bernada candaan sarkastik mengenai hubungan sang politisi dengan mantan sekutunya. “Bang pange @pangeransiahaan masih temenan ga sama doi? 😂,” sindirnya.
Gelombang kekecewaan netizen ini seolah bermuara pada satu kesimpulan yang sama mengenai hilangnya idealisme. Hal ini ditutup oleh komentar lugas dari akun @mustom9 yang menegaskan kembali cap buruk bagi sang politisi. “Penjilat 🤣🤣🤣,” tulisnya.
Fenomena ini kembali menjadi alarm peringatan bagi para figur publik dan politisi di era digital. Manuver pragmatis demi kekuasaan mungkin bisa membawa seseorang ke kursi jabatan, namun jejak digital akan selalu menjadi hakim abadi yang menuntut pertanggungjawaban moral di mata masyarakat.
Sumber: repelita.net











