BREAKING

NASIONAL

Waled Nu di AHWA: Kemenangan Moral Ulama Aceh

Raih suara tertinggi kedua Tgk. KH. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) dalam AHWA di Muktamar ke-35 NU menjadi simbol kemenangan moral ulama Aceh di kancah nasional.

SEANTERONEWS.com – Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, kembali mempopulerkan istilah Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) ke ruang publik. Namun, di balik riuhnya suksesi kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, terselip sebuah fenomena luar biasa yang patut dibaca dari perspektif di luar sentrisme Pulau Jawa.

Fokus utamanya tertuju pada satu nama besar dari ujung barat Nusantara: Tgk. KH. Nuruzzahri Yahya, figur ulama yang di Serambi Mekkah lebih akrab disapa Waled Nu atau Waled Samalanga.

Bagi nahdliyin di Pulau Jawa, gaung nama Waled Nu mungkin baru benar-benar menghentak ketika tabulasi suara AHWA dibacakan di forum muktamar. Hasilnya di luar dugaan banyak pihak. Pengasuh Dayah Ummul Ayman, Samalanga ini berhasil meraup 477 suara dari pengurus cabang se-Indonesia. Angka ini menempatkannya di posisi kedua terbanyak, menempel sangat ketat kiai sepuh dari jantung pesantren Jawa Timur, KH Nurul Huda Jazuli asal Ploso, Kediri, yang mengantongi 485 suara.

Selisih tipis delapan suara dengan representasi episentrum NU Jawa Timur bukanlah sebuah kebetulan matematis. Ini adalah manifestasi pengakuan mutlak dari arus bawah NU se-Indonesia atas kapasitas dan integritas ulama dari Aceh.

Karismatik dan Mengakar pada Sanad Keilmuan

Mengenal Waled Nu adalah mengenal sosok peneduh. Di balik kesederhanaan ruang tamunya yang kerap hanya beralaskan matras biasa, terpancar karisma seorang pendidik (murabbi) sejati. Sosok berjanggut putih khas ini dikenal memiliki kedalaman ilmu yang diimbangi dengan kepedulian sosial yang amat tinggi, terutama terkait nasib pendidikan anak yatim dan masa depan santri dayah.

Waled Nu sejatinya bukanlah “orang asing” bagi tradisi intelektual NU di Jawa. Secara genealogi keilmuan, sanad beliau tersambung kuat dengan poros Tebuireng dan Sidogiri. Beliau tercatat pernah menimba ilmu di Universitas Hasyim Asy’ari dan Darul Hadits, Jombang. Jika diukur dari kualifikasi kapasitas, beliau sudah berada di maqam “bintang sembilan”.

Tingginya perolehan suara AHWA tersebut wajar jika sempat memantik asa bagi masyarakat Aceh. Sempat terbersit harapan historis: apakah ini saatnya posisi Rais Aam, atau setidaknya wakilnya, dijabat oleh representasi dari Serambi Mekkah?

Menembus Geopolitik “Jawa-Sentris”

Namun, dinamika muktamar memiliki realitas politiknya sendiri. Keputusan AHWA pada akhirnya menetapkan duet tokoh Jawa Timur: KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin (dari Tebuireng) sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.

Fakta ini kembali mengingatkan publik pada “hukum tak tertulis” dalam geopolitik organisasi di republik ini, bahwa episentrum kepemimpinan tertinggi PBNU seolah mutlak harus berakar di Pulau Jawa.

Padahal, jika membedah sejarah sosiologis ke-NU-an, tesis sejarah menunjukkan bahwa akar tradisi Ahlussunnah wal Jamaah di Aceh mulai dari amaliah, tradisi dayah, corak fikih Syafi’iyyah, hingga akidah Asy’ariyah telah mendarah daging berabad-abad sebelum struktur resmi NU lahir di Surabaya pada tahun 1926. Waled Nu adalah representasi paling otentik dari arus lama Islam Nusantara yang berakar kuat di Aceh tersebut.

Kemenangan Moral Ulama Luar Jawa

Meskipun harapan melihat ulama Aceh menduduki kursi kepemimpinan tertinggi PBNU tertunda, realitas ini jauh dari kata kekalahan. Dalam kultur kiai sepuh, jabatan pantang untuk dikejar, apalagi diminta. Wajah Waled Nu yang tersenyum tenang di deretan infografis “9 Perolehan Suara Tertinggi AHWA” menyiratkan kedalaman spiritualitas tersebut.

Masuknya Waled Nu dalam formatur sembilan elite pemegang mandat pemutus masalah krusial di NU adalah sebuah kemenangan moral yang gemilang bagi ulama di luar Pulau Jawa. Beliau kini memegang peran strategis sebagai “jangkar dari Barat”, yang akan memastikan bahwa arah kebijakan PBNU ke depan tidak terjebak pada bias Jawa-sentris.

Kini, tugas masyarakat dan para santrinya hanyalah mendoakan agar Waled Nu senantiasa dianugerahi kesehatan dalam menjalankan amanah lintas pulau, Samalanga-Jakarta. Berdirinya guru karismatik dari Aceh ini di jajaran Dewan Elite AHWA sudah lebih dari sekadar alasan bagi masyarakat Aceh untuk berbangga. Beliau hadir untuk terus menyuntikkan ruh spiritualitas dayah ke dalam setiap denyut nadi keputusan PBNU.

Sumber: POTRET.

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts