BREAKING

OPINI

Bupati Abdya Mau Mendengar, Sebuah Teladan Kepemimpinan

Bupati Abdya Dr. Safaruddin menunjukkan teladan kepemimpinan dengan mau mendengar curhat bawahannya. Sikap ini dinilai penting untuk membangun komunikasi, kepercayaan, dan pemerintahan yang terbuka.

Penulis: Edi Syahputra H, S.Pd.
Pemerhati Pendidikan Aceh/Putra Manggeng Raya.

PEMIMPIN sering kali lebih sibuk berbicara daripada mendengar. Padahal, seorang pemimpin yang baik tidak hanya dituntut mampu memberikan instruksi, tetapi juga harus memiliki telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami.
Karena itu, ketika seorang Bupati bersedia duduk bersama bawahannya dan mendengarkan curahan hati mereka, sesungguhnya ada pesan kepemimpinan yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah percakapan.

Di Aceh Barat Daya (Abdya), sikap Bupati Dr. Safaruddin, S.Sos., M.S.P. yang membuka ruang untuk mendengarkan curhat bawahannya menarik untuk kita refleksikan. Bukan karena seorang bupati mendengarkan keluhan bawahannya adalah sesuatu yang luar biasa, melainkan karena budaya mau mendengar semakin penting dalam menjalankan pemerintahan modern.

Mendengar adalah Kekuatan

Ada anggapan bahwa pemimpin harus selalu tampil tegas, banyak bicara dan memiliki jawaban atas berbagai persoalan. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, ketegasan tanpa kemampuan mendengar dapat membuat seorang pemimpin kehilangan informasi penting dari lapangan.

Bawahan adalah orang yang berhadapan langsung dengan persoalan teknis pemerintahan. Mereka mengetahui apa yang berjalan baik, apa yang tersendat dan apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat.
Tidak semua persoalan dapat dituangkan dalam laporan resmi.

Ada persoalan yang hanya akan muncul ketika seorang bawahan merasa nyaman berbicara kepada atasannya. Ada gagasan yang tidak pernah masuk dalam rapat formal. Ada pula kegelisahan yang selama ini disimpan karena takut dianggap sebagai kritik terhadap pimpinan.

Maka, ketika pemimpin membuka ruang untuk mendengar, sebenarnya ia sedang membuka pintu informasi yang lebih jujur.
Mendengar bukan tanda kelemahan. Mendengar justru menunjukkan kematangan seorang pemimpin.

Curhat Bukan Sekadar Keluhan

Curhat bawahan jangan selalu dipahami sebagai keluhan pribadi. Dalam konteks birokrasi, curhat bisa menjadi cermin kondisi organisasi.

Dari curhat seorang aparatur, pemimpin bisa mengetahui persoalan pelayanan, keterbatasan sarana dan prasarana, hambatan koordinasi, beban kerja, persoalan administrasi, bahkan kondisi masyarakat yang belum tertangkap dalam laporan.

Di sinilah seorang pemimpin dituntut memiliki kepekaan.
Keluhan harus dipilah. Mana yang merupakan persoalan pribadi, mana yang merupakan persoalan organisasi, dan mana yang menyangkut kepentingan publik.

Jika informasi tersebut dikelola dengan baik, sebuah curhat sederhana dapat berubah menjadi bahan evaluasi.
Dan dari evaluasi, lahirlah perbaikan.

Jangan Berhenti pada Mendengar

Namun, ada satu catatan penting: mendengar saja belum cukup.
Pemimpin harus mampu mengubah suara yang didengar menjadi tindakan.

Jika persoalan bisa diselesaikan, selesaikan. Jika membutuhkan koordinasi, lakukan koordinasi. Jika membutuhkan kebijakan, kaji dan rumuskan. Jika belum bisa dipenuhi karena keterbatasan anggaran, jelaskan secara terbuka.

Dengan demikian, bawahan tidak merasa bahwa curhat mereka hanya didengar untuk kemudian dilupakan.
Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji.

Seorang pemimpin yang baik bukan yang mampu menyelesaikan semua persoalan seorang diri, tetapi yang mampu membangun sistem sehingga persoalan dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Membangun Birokrasi Tanpa Sekat

Pemerintahan daerah membutuhkan komunikasi dua arah.
Bupati memiliki visi dan arah pembangunan. Sementara aparatur memiliki pengalaman teknis dan informasi lapangan. Keduanya harus bertemu dalam komunikasi yang sehat.
Birokrasi memang memiliki jenjang. Tetapi jenjang jabatan tidak boleh menjadi tembok komunikasi.
Ketika bawahan merasa dapat menyampaikan persoalan kepada pimpinan, rasa memiliki terhadap organisasi akan tumbuh. Aparatur merasa dihargai dan dilibatkan.

Sebaliknya, ketika bawahan merasa tidak boleh berbicara, budaya diam dapat berkembang. Akibatnya, persoalan yang sebenarnya kecil bisa menjadi besar karena terlambat diketahui.

Karena itu, budaya mendengar perlu menjadi bagian dari tata kelola pemerintahan Abdya.

Pemimpin Dekat, Bukan Berjarak

Kepemimpinan daerah pada hakikatnya adalah kepemimpinan yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
Bupati tidak hanya membutuhkan laporan dari meja kerja. Ia membutuhkan suara dari lapangan.

Suara guru, tenaga kesehatan, petani, nelayan, aparatur desa, pelaku UMKM, pemuda dan masyarakat biasa semuanya penting.
Sebab, pembangunan bukan hanya tentang angka dan proyek. Pembangunan adalah tentang manusia dan kehidupannya.

Karena itu, pemimpin yang dekat dengan bawahan dan masyarakat akan lebih mudah memahami persoalan yang sesungguhnya.

Teladan untuk Semua
Sikap seorang bupati akan menjadi contoh bagi bawahannya.

Jika bupati mau mendengar, maka kepala dinas diharapkan mau mendengar stafnya. Camat mau mendengar aparatur di bawahnya. Kepala sekolah mau mendengar guru dan tenaga kependidikan. Begitu seterusnya.
Akhirnya terbentuk sebuah budaya kerja yang terbuka.

Budaya inilah yang perlu dibangun: tidak takut berbicara, tidak alergi terhadap kritik, dan tidak malu mengakui bahwa masih ada persoalan yang harus diperbaiki.
Abdya membutuhkan pemerintahan yang bekerja dengan hati, bukan sekadar bekerja berdasarkan rutinitas.

Dari Mendengar Menuju Kepercayaan

Sebagai putra Manggeng Raya yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan pembangunan Aceh, saya melihat bahwa kesediaan pemimpin mendengar merupakan modal penting dalam membangun kepercayaan.

Masyarakat mungkin tidak selalu menuntut pemimpinnya memiliki jawaban untuk setiap persoalan. Tetapi masyarakat ingin merasakan bahwa suara mereka didengar.
Begitu pula bawahan. Mereka tidak selalu meminta semua keinginannya dipenuhi. Mereka ingin persoalannya dipahami dan diperlakukan sebagai bagian dari organisasi.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan sekadar tentang kekuasaan. Kepemimpinan adalah tentang kepercayaan.
Dan kepercayaan tumbuh dari komunikasi.
Komunikasi tumbuh dari kemauan untuk mendengar.

Maka, ketika Bupati Abdya mau mendengarkan curhat bawahannya, kita dapat mengambil sebuah pelajaran sederhana: pemimpin tidak akan kehilangan wibawa karena mendengar. Justru wibawa akan tumbuh ketika bawahan merasa dihargai dan masyarakat merasa diperhatikan.

Sebab, pemimpin yang hanya ingin didengar mungkin dapat mengendalikan orang untuk sementara.
Tetapi pemimpin yang mau mendengar akan mampu memenangkan hati.

Dan dalam pemerintahan, memenangkan hati bukan berarti mencari pujian. Ia berarti membangun kepercayaan untuk bekerja bersama demi daerah dan masyarakat.
Mendengar dengan telinga, memahami dengan hati, lalu bertindak dengan kebijakan. Itulah wajah kepemimpinan yang kita harapkan untuk Abdya.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts