PIDIE – Menjelang perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD II Partai Golkar Kabupaten Pidie yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (29/8/2026) di Gedung Meusapat Sigli, dinamika perebutan tampuk kepemimpinan partai berlambang pohon beringin tersebut kian memanas. Kader senior Partai Golkar Pidie, Muhammad Junaidi, S.P., menegaskan kesiapan penuhnya untuk maju bertarung memperebutkan kursi ketua.
Langkah ini menjadi kelanjutan sikap kritis Junaidi setelah sebelumnya secara terbuka membantah narasi penetapan calon tunggal serta menolak indikasi aklamasi yang dinilai mencederai tradisi demokrasi internal partai.
Junaidi menegaskan, ruang kontestasi tidak boleh ditutup secara sepihak hanya dengan dalih administratif penjaringan pra-Musda. Ia memastikan akan memperjuangkan hak konstitusionalnya sebagai kader langsung di hadapan para pemegang hak suara pada persidangan pleno Musda esok hari.
“Musda adalah forum musyawarah dan pengambil keputusan tertinggi di tingkat daerah. Hak setiap kader untuk memilih dan dipilih dijamin oleh mekanisme organisasi. Kami siap bertarung secara terbuka, sehat, dan ksatria demi mengembalikan marwah partai,” tegas Junaidi dalam keterangannya di Sigli, Jumat (28/8/2026).
Pencalonan Junaidi sebelumnya sempat diwarnai polemik saat berkas pendaftarannya ditolak oleh Panitia Pengarah (Steering Committee/SC) dengan alasan keterlambatan hitungan menit dari batas waktu penutupan pra-penjaringan.
Menanggapi hal tersebut, Junaidi menegaskan bahwa keputusan panitia itu bertentangan dengan mekanisme baku persidangan. Berdasarkan susunan jadwal acara resmi Musda XI Partai Golkar, ruang pendaftaran untuk menjadi bakal calon ketua secara sah telah dialokasikan tersendiri dalam agenda Rapat Paripurna V.
Oleh sebab itu, menurut Junaidi, upaya menutup pintu pencalonan sebelum agenda persidangan resmi tersebut dibuka merupakan langkah inkonstitusional yang sarat rekayasa untuk menggiring forum menuju aklamasi sepihak.
“Jika merujuk pada tata tertib dan jadwal resmi Musda XI, pendaftaran bakal calon secara sah dibuka pada agenda Rapat Paripurna V. Jika memang dukungan politik di akar rumput sudah kuat dan kokoh, semestinya tidak perlu ada kekhawatiran untuk bertarung secara adil di arena persidangan. Organisasi ini besar karena kaderisasinya yang mengakar, bukan karena proteksi sepihak yang membatasi hak kader,” imbuhnya.
Dengan penegasan tersebut, gelaran Musda XI Golkar Pidie dipastikan menyajikan kontestasi terbuka. Forum tersebut diprediksi akan menjadi arena adu gagasan dan konsolidasi dukungan antara kubu petahana T. Saifullah TS dan poros perubahan yang diusung oleh Junaidi bersama jajaran Pengurus Kecamatan (PK) pendukungnya.
Pelaksanaan Musda besok dinilai menjadi ujian krusial bagi kedewasaan berdemokrasi Partai Golkar Pidie dalam konsolidasi organisasi dan merawat soliditas kader, serta menegakkan aturan main organisasi (AD/ART), Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Peraturan Organisasi (PO) untuk melahirkan kepemimpinan yang legitimate demi menghadapi agenda-agenda politik strategis di masa mendatang.[]











