BREAKING

TEKNOLOGI

Tombol ‘AI Slop’ LinkedIn Digunakan 1 Juta Pengguna

Fitur pelaporan konten AI di LinkedIn telah digunakan lebih dari 1 juta kali. Langkah ini efektif kurangi konten sampah di platform.

SEANTERONEWS.com – Pengguna LinkedIn kini semakin aktif dalam menjaga kualitas linimasa mereka dari serbuan konten hasil kecerdasan buatan (AI-generated content) yang dianggap tidak relevan atau “sampah”. Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, mengungkapkan bahwa fitur pelaporan konten AI atau tombol ‘seems like AI slop’ telah digunakan oleh lebih dari satu juta pengguna sejak diluncurkan awal Agustus 2026.

Fitur ini memungkinkan pengguna melaporkan konten yang dicurigai sebagai hasil generatif AI melalui menu tiga titik di pojok kanan atas setiap unggahan maupun komentar. Jika sebuah kiriman menerima umpan balik komunitas yang cukup banyak, kreator konten tersebut akan mendapatkan notifikasi melalui fitur Post Analytics sebagai peringatan bahwa unggahannya dianggap kurang otentik oleh audiens.

Menekan Konten yang Kurang Relevan

Upaya LinkedIn ini terbukti memberikan dampak positif bagi pengalaman pengguna. Srinivasan mengestimasi bahwa secara agregat, anggota LinkedIn kini melihat sekitar 40 persen lebih sedikit konten yang dikategorikan sebagai AI slop dibandingkan beberapa pekan lalu.

Angka ini merupakan kemajuan signifikan mengingat pada Juli 2026, firma deteksi AI Pangram sempat merilis temuan mengejutkan bahwa lebih dari 40 persen unggahan panjang di LinkedIn terindikasi sebagai karya yang sepenuhnya dibuat oleh mesin. Dominasi konten otomatis ini sempat menjadi keluhan utama karena dianggap merusak nilai profesionalitas dan otentisitas yang selama ini dijunjung tinggi oleh jaringan profesional tersebut.

Era Baru Deteksi AI

Meskipun deteksi AI sering kali dianggap tidak sepenuhnya akurat, industri teknologi kini mulai berbenah. Perusahaan seperti Anthropic mulai menyematkan teknologi watermarking pada teks hasil generatif mereka, sehingga konten tersebut dapat diidentifikasi oleh sistem lain di masa depan.

Tidak hanya LinkedIn, platform media sosial lain juga bergerak searah. Snapchat baru saja mengintegrasikan teknologi Pangram untuk menandai teks yang dicurigai buatan AI, sekaligus membersihkan feed mereka dari video hasil generatif. Di sisi lain, Spotify juga mulai melabeli konten audio dengan AI Persona agar pendengar dapat membedakan antara musik orisinal dan hasil kreasi mesin.

Menjaga Integritas Ruang Digital

Peningkatan drastis penggunaan tombol pelaporan di LinkedIn menunjukkan bahwa audiens saat ini semakin cerdas dalam memfilter kualitas informasi. Pengguna tidak lagi sekadar pasif menerima konten, namun mereka menuntut otentisitas dari jejaring profesional mereka.

Pembaruan ini menjadi penanda bahwa meskipun teknologi AI terus berkembang pesat, kendali utama tetap berada di tangan komunitas pengguna. Dengan adanya mekanisme crowdsourced seperti yang diterapkan LinkedIn, platform media sosial memiliki peluang lebih besar untuk menjaga ekosistemnya tetap sehat dan relevan, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada algoritma deteksi yang mungkin belum sempurna.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts