BREAKING

INTERNASIONAL

Ekonomi Tertekan Sanksi AS, Iran Serukan Akhiri Perang

Presiden Iran Masoud Pezeshkian desak perang segera diakhiri seiring memburuknya ekonomi akibat sanksi berat Amerika Serikat.

SEANTERONEWS.com – Pemerintah Iran mulai memberikan sinyal keterbukaan untuk mengakhiri konflik di tengah semakin beratnya tekanan ekonomi nasional. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menyatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyudahi peperangan, mengingat dampaknya yang mulai menggerogoti stabilitas keuangan dalam negeri.

Pezeshkian mengakui bahwa pemerintahan yang dipimpinnya kini menghadapi kendala keuangan yang serius. Blokade maritim yang diberlakukan terhadap Teheran telah menghambat arus ekspor dan impor, yang berujung pada kesulitan negara dalam memenuhi kewajiban pembayaran kepada pekerja, pensiunan, hingga pegawai negeri.

“Lebih baik mengakhiri perang hari ini, saat posisi kita kuat dan dihormati oleh dunia. Masyarakat harus memahami bahwa perang membawa konsekuensi ekonomi yang sangat berat, dan pemerintah tengah menghadapi kendala keuangan yang nyata,” ujar Pezeshkian dalam pernyataannya, Sabtu (22/8/2026).

Kekuatan Militer Bukan Segalanya

Pandangan senada juga datang dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Saat melakukan kunjungan ke Baghdad, Ghalibaf menegaskan bahwa pertahanan negara tidak bisa hanya bertumpu pada kekuatan militer semata. Ia mengingatkan bahwa kondisi ekonomi yang memburuk akan menjadi titik lemah yang membahayakan kedaulatan negara.

“Seberapapun besar kekuatan militer kita, jika rakyat kelaparan dan kita gagal menjaga peredaran keuangan serta produksi dalam negeri, maka kita tidak akan mampu bertahan lama,” tutur Ghalibaf.

Tekanan Ekonomi “Terberat dalam Sejarah”

Washington di bawah arahan Presiden Donald Trump terus melancarkan tekanan ekonomi yang disebut-sebut sebagai operasi paling menghancurkan yang pernah dilakukan AS terhadap suatu negara. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan menyebut sanksi baru ini sebagai sanksi terberat dalam sejarah, yang juga menyasar negara, perusahaan, maupun lembaga keuangan global yang berani membantu Teheran.

Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi bahwa tekanan ekonomi telah menjadi senjata utama Washington untuk menekan Iran. Dampak kebijakan ini mulai terlihat nyata di lapangan; data pengiriman melalui Selat Hormuz mencatat penurunan signifikan, dengan jumlah kapal komoditas yang melintas anjlok hingga 50 persen dalam satu hari terakhir.

Respons Teheran

Kendati tekanan ekonomi semakin mencekik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tetap bersikap tegas. Melalui unggahannya di media sosial, Araghchi menegaskan bahwa strategi tekanan ekonomi Washington akan menemui jalan buntu.

“Pasti gagal. Kita sudah pernah melihat film ini sebelumnya,” tulis Araghchi di platform X, merujuk pada kegagalan kebijakan tekanan serupa di masa lalu.

Meskipun pejabat Iran tetap menunjukkan sikap resisten di depan publik, seruan Presiden Pezeshkian untuk mengakhiri perang menandakan adanya urgensi kebutuhan akan normalisasi ekonomi. Dunia kini menanti langkah diplomatik selanjutnya, apakah gencatan kata-kata ini akan berlanjut ke meja perundingan nyata demi menghindari keruntuhan ekonomi yang lebih dalam bagi Iran serta stabilitas yang lebih terjaga di kawasan Timur Tengah.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts