BISNIS

Harga Emas Global Melonjak Usai Redanya Ketegangan AS-Iran

Harga emas dunia melesat 1,6% di tengah harapan diplomasi AS-Iran. Perak mencatat kenaikan tertinggi hingga 4,1%. Simak ulasannya.

SEANTERONEWS.com – Pasar logam mulia dunia mencatatkan performa gemilang pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Harapan akan meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis utama yang mendorong lonjakan harga emas serta komoditas logam mulia lainnya secara serentak.

Sentimen positif ini muncul setelah pejabat tinggi Iran mengonfirmasi penerimaan draf proposal gencatan senjata selama 10 hari. Optimisme akan diplomasi ini berhasil menekan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi di kawasan Teluk, yang sebelumnya sempat memicu spekulasi inflasi tinggi dan ancaman kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).

Reli Tajam di Seluruh Sektor Logam Mulia

Emas spot menjadi pemimpin pasar dengan lonjakan 1,6 persen hingga menembus level 4.068,29 dolar AS per ons. Senada dengan itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 1,5 persen di posisi 4.076,40 dolar AS per ons.

Tidak hanya emas, logam mulia lain juga mengalami reli tajam yang cukup mengejutkan:

Perak: Mencatat lonjakan paling ekstrem, melesat 4,1 persen ke level 58,72 dolar AS per ons.

Palladium: Melonjak 2,4 persen dan bertengger di posisi 1.282,25 dolar AS per ons.

Platinum: Menguat 1,9 persen menjadi 1.623,63 dolar AS per ons.

Menanti Kebijakan The Fed

Meski emas menunjukkan ketangguhan sebagai aset safe haven terhadap inflasi, investor kini tetap bersikap cermat menantikan pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve pekan depan. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar saat ini mengantisipasi probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 68 persen.

Tantangan utama bagi logam mulia tetap pada biaya peluang (opportunity cost). Di tengah suku bunga yang tinggi, memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding) seperti emas menjadi kurang menarik bagi sebagian investor. Namun, melunaknya ekspektasi pengetatan kebijakan akibat meredanya ancaman inflasi dari sektor minyak telah memberikan ruang napas yang cukup bagi harga emas untuk melesat.

Ke depan, pelaku pasar akan terus menyimak arah kebijakan moneter melalui pandangan Chairman The Fed, Kevin Warsh, dalam rapat dua hari mendatang. Perpaduan antara stabilitas geopolitik dan kepastian kebijakan moneter akan menjadi penentu apakah tren penguatan logam mulia ini dapat bertahan dalam jangka panjang atau hanya sekadar aksi beli sesaat merespons sentimen positif diplomasi.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts