BREAKING

TEKNOLOGI

Current AI: Bangun Infrastruktur AI Publik untuk Dunia

Current AI bangun infrastruktur AI open-source untuk lestarikan bahasa dan budaya lokal dunia. Simak visi besar di balik misi kemanusiaan ini.

SEANTERONEWS.com – Di saat industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) didominasi oleh perusahaan-perusahaan swasta raksasa, sebuah organisasi nirlaba bernama Current AI muncul dengan misi yang berbeda. Mereka berupaya membangun infrastruktur AI yang bersifat terbuka (open-source) dan dapat diakses oleh publik, guna memastikan komunitas yang selama ini terpinggirkan oleh teknologi tidak kehilangan identitas bahasa dan budayanya.

Dipimpin oleh CEO Ayah Bdeir, Current AI hadir sebagai jawaban atas kekhawatiran bahwa dominasi bahasa Inggris dalam model AI global dapat memicu kepunahan bagi separuh bahasa lisan di dunia. “Jika AI benar-benar teknologi transformatif yang akan mengubah setiap aspek kehidupan manusia, maka harus ada alternatif publik yang dapat diakses siapa saja secara gratis, layaknya World Wide Web,” ujar Bdeir.

Suno Sutra: Solusi AI Tanpa Internet

Salah satu bukti nyata misi Current AI adalah proyek Suno Sutra. Bekerja sama dengan Bhashini, divisi bahasa AI milik pemerintah India, mereka menciptakan perangkat seukuran saku yang mampu menjalankan AI dalam 22 bahasa daerah India tanpa memerlukan koneksi internet.

Proyek ini menjadi jawaban bagi para petani di pelosok India yang kesulitan mengakses informasi pertanian karena kendala bahasa. “Di India, terdapat ratusan bahasa dan dialek, namun saat ini AI tidak merepresentasikannya,” imbuh Bdeir.

Model Pendanaan “Public-Private Partnership”

Berbeda dengan startup teknologi pada umumnya yang bergantung pada modal ventura, Current AI beroperasi melalui kemitraan publik-swasta. Dengan suntikan dana awal sebesar 100 juta dolar AS dari pemerintah Prancis, serta dukungan dari yayasan filantropi seperti Ford Foundation, MacArthur Foundation, DeepMind, hingga Salesforce, total komitmen dana yang terkumpul mencapai 400 juta dolar AS.

Bdeir menegaskan bahwa para pendukung tersebut bukan investor, melainkan donatur yang mendukung kepentingan publik. Hal ini memastikan bahwa sistem yang dibangun tidak akan dikunci oleh kepentingan pasar segelintir perusahaan di Silicon Valley.

Memberdayakan Komunitas Lokal

Saat ini, Current AI telah mengalokasikan hibah sebesar 3,2 juta dolar AS kepada empat organisasi di Kenya, Lebanon, dan pedalaman Amazon, Brasil. Fokus mereka adalah:

Masakhane, Kenya: Membangun dataset AI dalam 50 lebih bahasa Afrika untuk kesehatan dan pertanian.

Institute for Worldmaking, Lebanon: Mendigitalkan sejarah budaya Arab ke dalam database yang dikelola oleh komunitas.

Portal sem Porteiras, Brasil: Membangun alat AI offline untuk komunitas masyarakat adat Amazon guna menjaga kedaulatan data di wilayah mereka sendiri.

Pendekatan Current AI sangat unik: mereka memastikan komunitas terlibat sebelum sistem dibangun. Protokol persetujuan (consent protocols) disematkan langsung ke dalam sistem agar komunitas memiliki kendali penuh untuk menghentikan proses pengumpulan data kapan saja.

Visi Masa Depan yang Inklusif

Baru-baru ini di Jenewa, Current AI juga meluncurkan Alpha Chat, sebuah chatbot open-source hasil kolaborasi sepuluh organisasi termasuk Mozilla dan MIT Media Lab. Tidak berhenti di situ, mereka juga menjalin kemitraan dengan Sakana AI di Tokyo untuk membangun stack AI terbuka yang mendukung bahasa Jepang serta komunitas di kawasan Global South.

Bagi Current AI, skala bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. “Skala bukan selalu tolok ukur. Keberhasilan bisa terlihat saat seorang tetua adat di Amazon menggunakan alat yang dibangun di Kenya untuk mewariskan pengetahuan ekologi dalam bahasa mereka sendiri,” pungkas Bdeir.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts