SEANTERONEWS.com – BP, kembali melakukan perubahan haluan strategis. Perusahaan minyak asal Inggris ini resmi mengumumkan rencana penjualan mayoritas portofolio investasinya di perusahaan-perusahaan teknologi iklim kepada firma ekuitas swasta asal Nordik, Verdane.
Langkah ini mencakup divestasi terhadap lebih dari 10 perusahaan yang selama ini menjadi bagian dari portofolio BP Ventures. Keputusan tersebut mempertegas pergeseran fokus bisnis BP, setelah sebelumnya mereka juga telah mengurangi ambisi dalam beberapa proyek energi bersih di awal tahun ini.
Sejak diluncurkan pada tahun 2007, BP Ventures telah menyuntikkan modal ke berbagai sektor inovatif. Mulai dari hidrogen hijau, mobilitas listrik (e-mobility), kendaraan otonom, hingga energi panas bumi. Namun, setelah hampir dua dekade berjalan, portofolio ini dianggap belum memberikan hasil finansial yang memuaskan.
Laporan tahun lalu mengungkapkan bahwa nilai portofolio BP Ventures berada di kisaran 1,2 miliar dolar AS, angka yang setara dengan total modal yang digelontorkan BP sejak unit tersebut berdiri pada 2006. Hal ini menunjukkan minimnya pertumbuhan nilai investasi yang diharapkan dari berbagai sektor teknologi transisi energi tersebut.
Dalam keterangan resminya, BP menyatakan hanya akan mempertahankan segelintir investasi yang dianggap memiliki potensi nilai tambah nyata bagi bisnis inti perusahaan. Namun, pihak manajemen enggan memerinci perusahaan mana saja yang tetap dipertahankan.
“Kami akan mempertahankan kepentingan pada sejumlah kecil investasi di mana teknologinya memiliki potensi untuk menciptakan nilai bagi bisnis kami,” ungkap manajemen BP.
Selain nasib perusahaan portofolio, perhatian juga tertuju pada masa depan karyawan BP Ventures. Meskipun BP menolak berkomentar dengan alasan aturan hukum dan regulasi ketenagakerjaan setempat, spekulasi mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) di unit tersebut semakin menguat.
Proses penjualan portofolio ini diperkirakan akan rampung pada kuartal kedua tahun 2027. Keputusan divestasi ini memicu perdebatan di kalangan pengamat industri mengenai keseriusan perusahaan minyak raksasa dalam mengejar transisi energi di tengah tekanan untuk tetap menjaga profitabilitas bagi para pemegang saham di sektor bahan bakar fosil.











