SEANTERONEWS.com – Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menghadiri upacara kelulusan siswa kelas XII tingkat SMA, MA, dan SMK di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu malam (28/6/2026).
Dalam pidato sambutannya, pria yang akrab disapa Cak Imin ini mengutarakan kekagumannya terhadap model pendidikan di lembaga tersebut yang dinilainya sangat adaptif dan responsif terhadap tantangan zaman.
Ia menceritakan awal mula mengenal sosok pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, secara unik melalui platform media sosial Instagram sebelum akhirnya melakukan kunjungan silaturahmi (sowan) langsung.
“Saya melihat ada pesantren yang unik, bangunannya bagus, suasananya luar biasa. Saya sempat bertanya kepada Kiai Said Aqil Siradj, dan beliau mengatakan memang pesantren ini luar biasa. Akhirnya saya beberapa kali sowan ke BIMA dan semakin yakin bahwa pesantren ini memiliki visi, tahapan, dan model pendidikan yang sangat jelas,” tutur Cak Imin.
Pemadatan Kurikulum dan Kesiapan Bonus Demografi
Didampingi Bendahara Umum DPP PKB Bambang Susanto serta Ketua DPW PKB Jawa Barat Syaiful Huda, Muhaimin mengisahkan diskusinya bersama KH Imam Jazuli mengenai efisiensi kurikulum pesantren.
Ia mengapresiasi keberanian BIMA dalam menyederhanakan materi belajar keagamaan tradisional yang biasanya memakan waktu puluhan tahun menjadi hanya beberapa tahun demi menjawab dinamika zaman modern.
Menatap masa depan, Menko Pemberdayaan Masyarakat ini optimistis alumni BIMA akan memperkuat pencapaian target Indonesia Emas 2045. Ia menekankan tiga pilar utama yang wajib dipegang oleh santri masa kini, yakni kepemilikan keahlian (skill), integritas moral, serta kepatuhan terhadap ilmu pengetahuan.
Muhaimin juga mengingatkan bahwa para lulusan akan memegang kendali kepemimpinan di tengah masa puncak bonus demografi nasional.
“Jika sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA tahun 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian,” tegasnya.
Target Akselerasi Ribuan Sarjana Internasional
Pada kesempatan yang sama, Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, mengumumkan capaian prestasi akademik santri yang menunjukkan grafik peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.
Target untuk melahirkan 1.000 sarjana di universitas luar negeri dan 1.000 sarjana di perguruan tinggi negeri (PTN) dalam negeri yang semula dicanangkan tercapai pada tahun 2028, kini diproyeksikan dapat terealisasi lebih cepat pada tahun 2027.
Untuk tahun ajaran ini, sebanyak 175 santri BIMA bersiap melanjutkan studi ke berbagai negara seperti Rusia, Tiongkok, Tunisia, serta wilayah Timur Tengah. Selain itu, terdapat 99 santri yang berhasil menembus PTN nasional, mayoritas pada program studi umum.
KH Imam Jazuli memaparkan bahwa para santri yang bertolak ke Timur Tengah tidak lagi melulu mendalami ilmu keagamaan. Sebagai gambaran, dari 13 santri yang berangkat ke Tunisia, sebanyak 11 orang di antaranya justru mengambil program studi umum.
Pemilihan program studi tersebut disesuaikan dengan peta kebutuhan strategis negara, mencakup bidang teknik pertambangan hingga industri persenjataan.
KH Imam Jazuli menegaskan pentingnya gerakan nasional untuk menggeser paradigma pesantren agar tidak sekadar mendidik santri yang saleh secara spiritual, melainkan juga melahirkan generasi terampil yang mampu berkontribusi nyata dalam membangun kekuatan negara di berbagai sektor keilmuan.[]









