SEANTERONEWS.com – Serangan spyware canggih terhadap jurnalis, aktivis hak asasi manusia, hingga tokoh politik bukan lagi sekadar isu fiksi. Memasuki tahun 2025 dan 2026, serangan siber berbasis negara semakin agresif. Awal tahun lalu, WhatsApp memperingatkan puluhan pengguna di Eropa yang menjadi target perusahaan spyware asal Israel, Paragon Solutions.
Tak lama berselang, Apple mengirimkan notifikasi ancaman kepada pengguna iOS setelah analisis forensik mengonfirmasi adanya serangan spyware “Graphite”. Yang mengkhawatirkan, serangan ini bertipe zero-click, di mana perangkat dapat terinfeksi tanpa korban perlu mengeklik tautan apa pun.
Menanggapi ancaman yang kian sistematis ini, Apple, Google, dan Meta telah meluncurkan fitur keamanan tingkat tinggi. Fitur-fitur ini dirancang khusus untuk memutus akses spyware yang mencoba mencuri pesan, merekam suara, hingga melacak lokasi secara real-time.
Apple Lockdown Mode: Benteng Pertahanan Ekstrem
Apple memperkenalkan Lockdown Mode sebagai perlindungan paling radikal bagi pengguna iPhone, iPad, dan Mac. Saat diaktifkan, perangkat akan membatasi beberapa fungsi demi menutup celah keamanan yang biasanya dieksploitasi oleh vendor spyware seperti NSO Group.
Beberapa proteksi utama dalam Lockdown Mode meliputi:
iMessage: Blokir otomatis sebagian besar lampiran selain gambar dan audio. Pratinjau tautan juga dinonaktifkan.
Browsing: Mematikan teknologi web tertentu di Safari yang sering menjadi pintu masuk peretasan.
Koneksi Kabel: Perangkat harus dibuka kuncinya untuk terhubung dengan aksesori atau komputer.
Jaringan: Memblokir koneksi ke jaringan seluler 2G dan 3G yang rentan terhadap penyadapan.
Untuk mengaktifkannya, buka Settings > Privacy & Security > Lockdown Mode.
Google Advanced Protection: Keamanan Akun dan Android
Bagi pengguna ekosistem Google, Advanced Protection Program adalah standar emas keamanan. Fitur ini mewajibkan penggunaan kunci keamanan fisik atau passkey untuk verifikasi masuk, sehingga peretas tidak bisa masuk hanya dengan mencuri kata sandi.
Selain itu, Google juga menghadirkan Android Advanced Protection Mode yang menawarkan:
Google Play Protect: Pemindaian mendalam terhadap aplikasi untuk mendeteksi perilaku berbahaya.
Blokir Aplikasi Asing: Pengguna hanya diizinkan menginstal aplikasi dari toko resmi.
Anti-Theft: Perangkat akan terkunci otomatis jika mendeteksi gerakan mencurigasi yang mengindikasikan pencurian fisik.
Auto-Reboot: Ponsel akan memulai ulang otomatis jika terkunci selama 72 jam, mempersulit alat forensik pihak ketiga untuk mengekstrak data.
Fitur ini dapat ditemukan di menu Settings > Security & Privacy > More Settings > Advanced Protection.
WhatsApp Strict Account Settings: Privasi untuk Miliaran Pengguna
Sebagai aplikasi pesan instan paling populer, WhatsApp kini menyediakan fitur Strict Account Settings. Fitur ini sangat krusial karena spyware sering kali menargetkan aplikasi pesan untuk mencuri data percakapan.
Saat fitur ini aktif, WhatsApp akan:
Membisukan telepon dari nomor yang tidak dikenal secara otomatis.
Menyembunyikan alamat IP saat melakukan panggilan agar lokasi pengguna tidak terlacak.
Menonaktifkan pratinjau tautan dan memblokir kiriman media dari pengirim asing.
Mewajibkan verifikasi dua langkah (2FA).
Pengaturan ini dapat diakses melalui Settings > Privacy > Advanced.
Pendapat Ahli: “Lebih Baik Mencegah”
Runa Sandvik, seorang peneliti keamanan siber yang fokus pada perlindungan kelompok berisiko, menekankan bahwa fitur-fitur ini adalah pertahanan terbaik yang tersedia saat ini secara gratis.
“Jika fitur ini dirasa sedikit mengganggu aktivitas harian, Anda bisa mematikannya kembali dengan mudah. Namun, nilai perlindungan yang diberikan jauh lebih besar daripada ketidaknyamanan kecil yang mungkin timbul,” ujar Sandvik.
Meski tidak ada sistem yang 100% sempurna, mengaktifkan fitur keamanan tingkat tinggi ini adalah langkah pertama yang sangat efektif untuk melindungi privasi Anda dari pengawasan ilegal dan pencurian data oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.











