SEANTERONEWS.com – Dalam industri sinema, tak jarang sebuah karya hanya memberikan hiburan sesaat yang pudar begitu penonton keluar dari pintu studio. Namun, ada segelintir film yang emosinya terus mengekor hingga perjalanan pulang ke rumah. Judul Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan tampaknya berhasil mengukuhkan diri di kategori kedua.
Resmi menghiasi layar bioskop Tanah Air sejak Rabu (13/5/2026), film ini mendadak menjadi buah bibir. Menariknya, sorotan publik bukan berpusat pada efek visual mewah atau bujet promosi fantastis, melainkan pada reaksi organik para penontonnya. Banyak pasang mata yang keluar dari bioskop dengan sembap, mendadak rindu sosok orang tua, hingga buru-buru meraih ponsel untuk menelepon keluarga di rumah.
Sebelum tayang serentak, proyek kolaborasi antara Rapi Films, Screenplay Films, dan Vortera Studios ini telah menggelar penayangan spesial (special screening) di 40 kota. Animonya luar biasa dan di luar ekspektasi. Sebagian besar penonton yang awalnya sekadar ingin mencari eskapisme dari penatnya rutinitas, justru pulang dengan dada yang penuh akan refleksi diri.
Sebagai contoh, seorang penonton asal Bandung mengungkapkan bahwa niat awalnya murni untuk menikmati waktu luang (me time). Namun begitu credit title bergulir, ia mengaku tak sabar ingin segera tiba di rumah demi memeluk erat suami dan buah hatinya.
Respons emosional yang masif ini tentu tak lepas dari kepiawaian sutradara Kuntz Agus. Ia berani membedah sebuah realitas pelik yang kerap terjadi di sekitar kita, namun ironisnya sering kita hindari: bagaimana jadinya jika memori ibunda perlahan-lahan memudar?
Menyelami Ketakutan Terbesar Seorang Anak
Alur cerita berpusat pada dinamika kehidupan Kesha (diperankan dengan apik oleh Yasmin Napper), seorang mahasiswi tingkat akhir yang tengah ambisius merajut masa depan. Di tengah padatnya rutinitas dan ambisi masa muda, Kesha dihadapkan pada kenyataan pahit: sang ibu, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), mulai menunjukkan gejala Alzheimer.
Fase penurunan kognitif itu digambarkan secara perlahan dan menyayat hati. Berawal dari kelupaan kecil—seperti salah menaruh kunci, bingung mencari rute pulang, hingga melewatkan tanggal-tanggal penting. Namun seiring berjalannya waktu, realitas menjadi lebih kejam tatkala memori sang ibu semakin terkikis dan kesulitan mengenali wajah darah dagingnya sendiri.
Pemaparan konflik inilah yang menjadikan Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan terasa begitu personal. Bagi kalangan dewasa muda yang merantau, sibuk bekerja, atau tenggelam dalam urusan kampus, menunda waktu pulang kampung adalah hal lumrah karena berasumsi “waktu masih panjang”. Melalui karakter Kesha, film ini ibarat tamparan halus yang mengingatkan bahwa kebersamaan dengan orang tua memiliki batas kedaluwarsa.
Hening, Realistis, dan Tanpa Melodrama Berlebih
Kekuatan utama film ini justru terletak pada penceritaannya yang sunyi. Sutradara menolak terjebak dalam formula sinetron yang sarat teriakan, amarah meledak-ledak, atau konflik yang didramatisasi. Ceritanya bergulir melalui fragmen-fragmen kehidupan sehari-hari yang sangat membumi.
Penonton disuguhkan pada kecanggungan seorang anak yang menyadari ibunya tak lagi sama, keputusasaan keluarga merawat penderita penyakit yang belum ada obatnya, serta rasa bersalah karena terlalu lama abai.
Lulu Tobing sukses mencuri perhatian lewat transisi aktingnya yang memukau. Ia menghidupkan karakter Yuke sebagai figur ibu yang hangat, namun rapuh tanpa kesan dibuat-buat. Di sisi lain, Yasmin Napper tampil sangat relevan mewakili generasi Gen Z: ambisius, namun diam-diam menyimpan ketakutan mendalam akan kehilangan.
Didukung oleh jajaran pemeran berbakat seperti Ibnu Jamil, Shofia Shireen, dan Jordan Omar, interaksi yang terbangun terasa layaknya melihat cermin dari kehidupan keluarga kita sendiri.
Sebuah Alarm Pengingat untuk Pulang
Di tengah gempuran tren horor dan laga yang merajai box office Indonesia, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan hadir layaknya oase. Kesederhanaannya justru menjadi senjata paling mematikan untuk menguras air mata audiens.
Lebih dari itu, film ini berhasil membuka ruang diskusi tentang Alzheimer—sebuah kondisi medis yang masih tabu dan minim literasi di masyarakat kita.
Pada akhirnya, mahakarya ini bukan sekadar presentasi tentang penyakit. Ia adalah surat cinta yang mengingatkan kita tentang berharganya setiap detik bersama keluarga, tentang kebiasaan menunda pulang yang harus dihentikan, dan tentang pesan WhatsApp orang tua yang pantang diabaikan.
Maka, wajar rasanya jika selesai menonton film ini, hal pertama yang Anda lakukan adalah menyalakan layar ponsel, mencari kontak “Ibu”, lalu menekan tombol panggilan.











