Suasana Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, mendadak mencekam pada Jumat malam (24/4/2026). Aksi demonstrasi mahasiswa yang awalnya bertujuan menyuarakan tuntutan terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, berakhir ricuh setelah massa terlibat bentrok dengan pengemudi ojek online (ojol).
Kericuhan dipicu oleh penutupan dua ruas jalan oleh massa aksi yang dinilai mengganggu aktivitas pengemudi ojol yang sedang beroperasi.
Merasa terhambat, massa ojol akhirnya memukul mundur para mahasiswa, yang kemudian memicu aksi saling lempar batu dan petasan.
Akibat bentrokan tersebut, arus lalu lintas di kawasan strategis tersebut sempat lumpuh total sepanjang beberapa kilometer, menimbulkan kemacetan panjang yang membuat para pengguna jalan terjebak.
Menanggapi situasi yang semakin tidak terkendali, aparat kepolisian melakukan penyisiran ke area kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Sejumlah mahasiswa yang diduga terlibat dalam kericuhan berhasil diamankan untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Dalam proses pengamanan tersebut, pihak kepolisian juga menemukan sejumlah senjata tajam yang disita sebagai barang bukti. Wakil Rektor III UMI, Nur Fadhilah, menyesalkan terjadinya insiden tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan tegas kepada para mahasiswa untuk membubarkan diri sebelum situasi memburuk.
“Saya sudah peringatkan agar kalian bubar, tapi tidak didengarkan,” ujar Nur Fadhilah.
Di balik ketegangan tersebut, sorotan tajam justru tertuju pada minimnya kehadiran petugas keamanan di lokasi kejadian saat aksi pemblokiran jalan berlangsung. Warga yang terjebak kemacetan menyayangkan kelambanan aparat dalam mengurai massa sebelum insiden bentrok pecah.
“Polisinya mana? Jalan diblokir kok diam saja, tidak ada tindakan. Ini sudah meresahkan, membuat macet panjang. Kami ingin pulang ke rumah,” keluh seorang penumpang angkutan umum yang berada di lokasi, dikutip dari ANTARA.
Ketiadaan langkah preventif dari pihak berwenang dinilai menjadi salah satu faktor mengapa ketegangan antara mahasiswa dan kelompok pengemudi ojol tidak bisa diredam sejak awal.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut untuk mengetahui kronologi lengkap serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kepemilikan senjata tajam dan pemicu utama kericuhan.
Masyarakat berharap agar pihak berwenang dapat lebih sigap dalam menangani aksi demonstrasi di masa mendatang agar tidak merugikan kepentingan umum dan menjaga stabilitas keamanan di kota Makassar.[]










