Hari ini, Senin (30/3/2026), warga Palestina di seluruh dunia memperingati 50 tahun Land Day atau Yom al-Ard. Momen setengah abad ini menandai tragedi 30 Maret 1976, ketika pasukan Israel menembak mati enam warga Palestina yang tidak bersenjata dan melukai lebih dari 100 lainnya saat memprotes penyitaan lahan besar-besaran di Galilea.
Peringatan tahun ini berlangsung di tengah eskalasi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana aktivitas perluasan permukiman ilegal Israel justru mencapai rekor tertinggi dalam sejarah.
Sejarah Kelam di Balik 30 Maret
Konflik bermula saat pemerintah Israel memerintahkan penyitaan 2.000 hektar lahan milik warga Palestina di wilayah Galilea (Sakhnin, Arrabeh, dan Deir Hanna). Luas lahan yang dirampas setara dengan 3.000 lapangan sepak bola, sebuah langkah yang disebut para ahli sebagai upaya sistematis untuk melakukan “Yudaisasi” di wilayah tersebut pasca pembentukan negara Israel.
Setiap tahun, warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, hingga komunitas diaspora di berbagai belahan dunia, memperingati hari ini dengan:
- Aksi Protes dan Vigili: Menyuarakan hak atas tanah leluhur.
- Penanaman Pohon Zaitun: Simbol keteguhan dan ikatan abadi rakyat Palestina dengan tanah mereka.
- Maret Global: Demonstrasi besar yang dijadwalkan di berbagai ibu kota dunia pada Senin ini untuk menandai peringatan ke-50.
Rekor Pencaplokan Lahan di Tahun 2025-2026
Meski dikecam internasional, Israel terus memperluas dominasinya. Data dari kelompok anti-permukiman Peace Now menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Israel menyetujui pembangunan unit perumahan di lahan Palestina dengan angka yang melonjak drastis:
- 2023: 12.349 unit
- 2024: 9.884 unit
- 2025: 27.941 unit (Rekor Tertinggi)
Pada 8 Februari 2026, Kabinet Keamanan Israel menyetujui langkah-langkah yang memudahkan penjualan tanah Palestina kepada pemukim Israel. Lembaga HAM menyebut tindakan ini sebagai “aneksasi de facto” dan serangan langsung terhadap kemungkinan berdirinya negara Palestina yang berdaulat di masa depan.
Kekerasan Pemukim dan Ancaman Ekspansi ke Lebanon
Situasi di Tepi Barat kian mencekam. Serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina meningkat dari 852 kasus pada 2022 menjadi 1.828 serangan sepanjang tahun 2025 rata-rata lima serangan per hari. Laporan PBB menyebutkan sedikitnya 1.094 warga Palestina tewas akibat serangan pasukan dan pemukim Israel sejak Oktober 2023.
Ketegangan kian meluas setelah Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, secara terang-terangan menyerukan aneksasi Lebanon Selatan pada 23 Maret lalu. Ia menyatakan bahwa perbatasan baru Israel harus mencapai Sungai Litani, sebuah wilayah yang terletak sekitar 30 km di dalam wilayah kedaulatan Lebanon.
Pernyataan ini muncul di tengah krisis kemanusiaan di Lebanon, di mana satu dari lima penduduk atau lebih dari satu juta orang telah mengungsi akibat pemboman terus-menerus. Peringatan Land Day tahun ini pun menjadi pengingat pahit bagi rakyat Palestina bahwa perjuangan memperebutkan tanah belum usai, bahkan kian meluas ke wilayah regional.[]











