BREAKING

INTERNASIONAL

Iran Tolak Ekspor Uranium tapi Siap Turunkan Kadar

Iran menolak mentah-mentah ekspor stok uranium 60% miliknya ke luar negeri, namun tawarkan opsi pengenceran (diluting). Simak tawaran terbaru untuk Trump di sini!

SEANTERONEWS.com – Ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington mencapai titik kritis baru. Berdasarkan laporan terbaru pada Sabtu, 21 Februari 2026, Iran secara resmi menolak tuntutan internasional untuk mengekspor stok uranium yang diperkaya hingga kadar tinggi (60%) ke luar negeri.

Meski demikian, sebagai langkah diplomasi untuk meredam potensi serangan militer dari Amerika Serikat, Teheran menawarkan konsesi berupa pengenceran (diluting) kemurnian stok uranium mereka di dalam negeri di bawah pengawasan ketat PBB.

Strategi “Counterproposal” untuk Donald Trump

Langkah ini merupakan inti dari proposal balasan yang tengah disiapkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Tawaran ini muncul di saat Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas menyusul penumpukan armada laut besar-besaran di Timur Tengah.

Iran saat ini memiliki cadangan sekitar 300-400 kg uranium dengan kadar kemurnian 60% angka yang sangat dekat dengan ambang batas senjata nuklir (weapons-grade). Teheran menawarkan untuk menurunkan kadar tersebut menjadi 20% atau lebih rendah, namun bersikeras agar material tersebut tetap berada di wilayah kedaulatan mereka.

Menolak “Zero Enrichment” dan Ekspor ke Rusia

Sebelumnya, terdapat wacana agar stok uranium Iran dikirim ke Rusia untuk diproses lebih lanjut guna menjamin keamanan global. Namun, sumber diplomatik Iran menegaskan:

Hak Pengayaan: Iran tetap menuntut hak domestik untuk melakukan pengayaan uranium demi tujuan sipil.

Tidak Ada Ekspor: Teheran menolak keras pemindahan material nuklir ke luar negeri, termasuk ke konsorsium internasional.

Tuntutan Pencabutan Sanksi: Iran meminta imbalan berupa pencabutan sanksi ekonomi secara menyeluruh sebagai pertukaran atas pengenceran stok uranium tersebut.

Bayang-bayang Serangan Militer AS

Situasi di Washington tidak kalah panas. Gedung Putih memberikan ultimatum kepada Teheran untuk segera mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hingga 15 hari. Pejabat AS menyatakan bahwa perencanaan militer telah mencapai tahap lanjut, dengan target potensial mencakup situs nuklir strategis seperti komplek Pickaxe Mountain di Natanz dan Taleghan 2 di Parchin.

Donald Trump sendiri secara terbuka menyatakan bahwa ia sedang “mempertimbangkan” serangan terbatas jika Iran tidak menunjukkan komitmen nyata untuk menghentikan program nuklirnya.

Pengawasan IAEA Jadi Kunci Utama

Keberhasilan tawaran Iran ini akan sangat bergantung pada seberapa besar akses yang diberikan kepada inspektur nuklir PBB (IAEA). Tanpa verifikasi transparan mengenai proses pengenceran dan jumlah sentrifugal yang beroperasi, sulit bagi pihak Barat untuk mempercayai niat damai Teheran.

Di sisi lain, Iran juga tengah menghadapi krisis domestik berupa gelombang protes besar di berbagai universitas dan inflasi yang melonjak, yang semakin menekan rezim untuk segera mendapatkan pelonggaran sanksi.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts