BREAKING

INTERNASIONAL

Menlu: Perang Sudan Adalah Perisai Afrika dari Asing

Menteri Luar Negeri Sudan menegaskan perang melawan RSF bukan sekadar konflik internal, melainkan benteng pertahanan Afrika dari intervensi asing. Simak pernyataan kerasnya.

SEANTERONEWS.com – Pernyataan mengejutkan dan tegas datang dari Pemerintah Sudan. Di tengah kecamuk perang saudara yang telah berlangsung bertahun-tahun, Menteri Luar Negeri Sudan mengeluarkan peringatan keras kepada dunia internasional: Konflik di negaranya bukan sekadar perebutan kekuasaan lokal, melainkan garis pertahanan terakhir bagi kedaulatan benua Afrika.

Dalam sebuah wawancara eksklusif pada Jumat (13/2/2026), diplomat top Sudan tersebut menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) kini tengah bertempur melawan kekuatan proksi asing yang menggunakan Rapid Support Forces (RSF) sebagai alat untuk menguasai sumber daya Afrika.

Sudan: “Kami Melindungi Pintu Gerbang Afrika”

Pemerintah yang berbasis di Port Sudan ini menuduh bahwa RSF didukung penuh oleh “kekuatan eksternal” yang memiliki agenda neokolonialisme. Menurut Menlu, jika militer Sudan kalah, maka stabilitas seluruh wilayah Sahel dan Tanduk Afrika akan runtuh.

“Apa yang terjadi di Khartoum dan Darfur adalah upaya sistematis pihak asing untuk memecah belah negara kami. Kami (Militer Sudan) sedang berjuang melindungi Afrika dari skenario perpecahan yang didalangi kekuatan luar,” tegasnya.

Tuduhan Keterlibatan Asing

Konflik yang pecah sejak April 2023 ini telah berubah menjadi perang proksi yang rumit. Dalam pernyataannya, Menlu Sudan menyoroti beberapa poin krusial:

Suplai Senjata Ilegal: Adanya aliran senjata canggih dari luar perbatasan yang terus membanjiri pasukan paramiliter RSF.

Incaran Sumber Daya Alam: Pihak asing dituduh mengincar kekayaan emas dan posisi strategis Sudan di Laut Merah.

Tentara Bayaran: Laporan intelijen menyebutkan ribuan tentara bayaran dari negara-negara tetangga direkrut untuk menghancurkan infrastruktur negara.

Dampak Regional yang Mengkhawatirkan

Para analis geopolitik menilai pernyataan ini sebagai upaya Sudan untuk menggalang dukungan lebih kuat dari Uni Afrika dan negara-negara tetangga yang masih bersikap netral.

Jika Sudan—sebagai salah satu negara terbesar di Afrika—jatuh ke dalam anarki total atau dikuasai oleh kelompok yang disetir asing, efek dominonya diprediksi akan memicu gelombang pengungsi dan ketidakstabilan ekonomi yang masif hingga ke Eropa.

Situasi Terkini di Lapangan

Meski diplomasi terus berjalan, pertempuran di lapangan masih sengit. Laporan PBB terbaru menyebutkan bahwa jutaan warga sipil masih terjebak dalam krisis kelaparan, sementara akses bantuan kemanusiaan sering kali terhambat oleh blokade pihak bertikai.

Pernyataan Menlu ini menjadi sinyal bahwa Sudan tidak akan menyerah pada tekanan internasional yang dianggap merugikan kedaulatan nasional mereka.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts