BANDA ACEH – Sebuah kebijakan kontroversial dari pemerintah Amerika Serikat (AS) memicu kemarahan para aktivis hak asasi manusia dan veteran perang. AS kini menawarkan pembayaran tunai kepada warga Afghanistan yang terdampar di Qatar agar mereka bersedia membatalkan permohonan suaka dan kembali ke negara asal mereka yang kini dikuasai Taliban.
Langkah ini disebut sebagai “pengkhianatan” terakhir bagi sekutu AS yang telah bertahun-tahun menunggu di kamp transit tanpa kepastian, pasca-penarikan pasukan AS yang kacau pada 2021.
Skema “Uang Tunai untuk Pulang”
Ribuan warga Afghanistan, yang sebagian besar adalah mantan kolaborator militer AS, penerjemah, dan aktivis, telah tertahan di Camp As Sayliyah, Doha, Qatar. Mereka awalnya dievakuasi dengan janji pemrosesan Visa Imigran Khusus (SIV) atau status pengungsi ke AS.
Namun, menurut dokumen dan sumber yang dikutip:
Paket Repatriasi: Departemen Luar Negeri AS (State Department) menawarkan paket bantuan finansial satu kali bayar (lump sum) bagi mereka yang “secara sukarela” memilih untuk kembali ke Afghanistan.
Pembatalan Kasus: Syarat penerimaan dana ini adalah penghentian proses aplikasi visa AS mereka, yang secara efektif menutup pintu bagi mereka untuk menginjakkan kaki di Amerika.
Alasan AS: Pejabat AS berdalih bahwa opsi ini diberikan bagi mereka yang tidak lolos pemeriksaan keamanan (vetting) atau yang merasa putus asa menunggu birokrasi yang tak kunjung usai.
Label “Pengkhianatan” dan Risiko Maut
Rencana ini menuai kecaman keras. Mengirim kembali warga Afghanistan yang pernah bekerja sama dengan AS ke wilayah kekuasaan Taliban dinilai sama saja dengan menjatuhkan hukuman mati bagi mereka.
Ancaman Taliban: Laporan PBB mencatat bahwa Taliban terus melakukan aksi balas dendam terhadap mantan pegawai pemerintah sebelumnya dan sekutu asing, meskipun ada amnesti umum yang diklaim.
Kritik Advokat: Kelompok advokasi pengungsi menyebut tawaran uang ini sebagai bentuk paksaan halus (coercion). “Ini bukan pilihan sukarela jika opsinya adalah penjara tanpa batas waktu di kamp Qatar atau uang untuk pulang ke mulut singa,” ujar salah satu aktivis.
Keputusasaan di Kamp: Kondisi di Camp As Sayliyah dilaporkan semakin memburuk secara psikologis, dengan banyak pengungsi merasa ditinggalkan oleh negara yang pernah mereka bantu.
Kegagalan Janji 2021
Situasi di Qatar ini merupakan residu dari evakuasi besar-besaran Agustus 2021. Lima tahun berselang, janji AS untuk menampung “sekutu yang tertinggal” tampaknya mulai pudar seiring dengan pergeseran prioritas politik luar negeri Washington.
Pejabat AS menyatakan bahwa repatriasi ini difasilitasi bekerja sama dengan organisasi internasional untuk memastikan proses yang “bermartabat”, namun tidak memberikan jaminan keamanan fisik bagi mereka yang tiba kembali di Kabul.
“Ini adalah bab penutup yang menyedihkan dari perang terpanjang Amerika. Kita membayar orang untuk pergi, bukan untuk menyelamatkan mereka,” tulis analisis.[]









