SEANTERONEWS.com – Sebuah fenomena ekonomi yang memprihatinkan sedang melanda Zimbabwe. Di tengah sistem kesehatan yang terus memburuk dan inflasi yang tak terkendali, jutaan warga kini dihadapkan pada pilihan hidup yang sulit. Kabar terbaru mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk Zimbabwe lebih memprioritaskan membayar asuransi pemakaman dibandingkan asuransi kesehatan atau medis.
Bagi banyak keluarga di negara tersebut, biaya untuk tetap hidup kini jauh lebih mahal daripada biaya untuk meninggal secara terhormat.
Mengapa Asuransi Pemakaman Lebih Populer?
Pilihan ini bukan tanpa alasan. Ada faktor ekonomi dan budaya yang kuat yang mendorong jutaan orang mengambil kebijakan ini:
Biaya Medis yang Selangit: Premi asuransi kesehatan di Zimbabwe melonjak drastis, sering kali setara dengan gaji bulanan pekerja rata-rata. Hal ini membuat akses ke rumah sakit swasta menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
Kepastian Layanan: Berbeda dengan klaim medis yang sering kali rumit dan penuh birokrasi, asuransi pemakaman memberikan layanan instan—mulai dari peti mati hingga biaya penguburan—yang sangat krusial bagi budaya setempat.
Kehancuran Rumah Sakit Publik: Fasilitas kesehatan milik negara sering kali kekurangan obat-obatan dasar dan tenaga medis, membuat kepemilikan asuransi medis terasa sia-sia karena layanan yang didapat tetap minim.
Dilema “Dying with Dignity”
Di Zimbabwe, pemakaman bukan sekadar ritual, melainkan sebuah kewajiban sosial yang besar. Kegagalan memberikan pemakaman yang layak dianggap sebagai aib bagi keluarga.
Prioritas Budaya: Warga merasa lebih tenang mengetahui bahwa keluarga mereka tidak akan terbebani utang saat mereka meninggal dunia.
Krisis Kepercayaan: Masyarakat kehilangan kepercayaan pada tabungan masa depan dan asuransi jiwa jangka panjang karena nilai mata uang yang tidak stabil.
Penyedia Layanan yang Menjamur: Perusahaan asuransi pemakaman kini menjadi bisnis paling sukses di Zimbabwe, menawarkan paket fleksibel yang bisa dibayar dengan barang atau cicilan kecil.
Kritik Terhadap Sistem Jaminan Sosial
Para aktivis kemanusiaan memperingatkan bahwa tren ini adalah “bom waktu” bagi kesehatan publik. Ketika masyarakat berhenti berinvestasi dalam pencegahan penyakit dan perawatan medis, angka harapan hidup diprediksi akan menurun drastis.
“Kami hidup di negara di mana orang-orang lebih siap untuk mati daripada untuk berobat. Ini adalah refleksi tragis dari kegagalan sistem ekonomi kami,” ungkap seorang pengamat sosial di Harare.
Pemerintah Zimbabwe kini dituntut untuk segera mereformasi sektor kesehatan agar jaminan medis bisa kembali terjangkau, sehingga warga tidak lagi harus memilih antara kesehatan mereka hari ini atau martabat mereka di liang lahat esok hari.[]










