INTERNASIONAL

Bisan Owda Diblokir TikTok, Suara Palestina Terancam Senyap

TikTok blokir akun jurnalis Palestina Bisan Owda yang miliki 1,4 juta pengikut. Apakah ini bentuk sensor digital? Simak kronologi dan reaksi dunianya di sini!

SEANTERONEWS.com – Dunia jagat maya kembali diguncang oleh kontroversi platform media sosial setelah akun milik jurnalis ternama Palestina, Bisan Owda, dilaporkan terkena blokir oleh TikTok. Owda, yang dikenal melalui laporan dokumenter pendeknya dari garis depan Gaza dan memiliki lebih dari 1,4 juta pengikut, mendapati platform tersebut membatasi aksesnya secara tiba-tiba pada Kamis (29/01/2026).

Langkah ini memicu perdebatan panas mengenai kebebasan pers di era digital dan tuduhan sensor terhadap suara-suara dari wilayah konflik.

Kronologi Pemblokiran Akun

Bisan Owda, yang sebelumnya meraih penghargaan bergengsi atas keberaniannya melaporkan kondisi kemanusiaan, mengungkapkan melalui kanal komunikasi lain bahwa akunnya tidak lagi dapat diakses.

Laporan menunjukkan bahwa pemblokiran terjadi di tengah meningkatnya unggahan yang mendokumentasikan krisis kemanusiaan terbaru di wilayah tersebut.

Dengan hilangnya akun tersebut, ribuan video dokumenter yang menjadi rujukan informasi bagi jutaan orang di seluruh dunia kini tidak dapat diakses publik.

Pihak TikTok sering kali merujuk pada “pelanggaran pedoman komunitas” terkait konten sensitif, namun para pendukung Owda menilai alasan ini sering digunakan secara tidak proporsional terhadap konten dari Palestina.

Gelombang Protes di Media Sosial

Kabar pemblokiran ini langsung memicu reaksi keras dari netizen global. Tagar dukungan mulai bermunculan, mendesak TikTok untuk segera memulihkan akun tersebut.

Organisasi kebebasan pers internasional memperingatkan bahwa membungkam jurnalis warga di wilayah konflik adalah pelanggaran terhadap hak publik untuk mendapatkan informasi.

Banyak analis media berpendapat bahwa algoritme platform besar cenderung melakukan “shadowbanning” atau penghapusan total terhadap konten yang dianggap terlalu politis atau grafis, meskipun konten tersebut bertujuan untuk jurnalisme.

Pengikut Owda mulai mengunggah ulang (re-post) karya-karyanya di platform lain sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya pembungkaman.

Respons TikTok dan Masa Depan Konten Konflik

Hingga berita ini dimuat, perwakilan TikTok belum memberikan pernyataan spesifik mengenai alasan di balik penutupan akun Bisan Owda. Namun, kasus ini kembali mempertegas tantangan besar yang dihadapi oleh jurnalis independen di wilayah perang yang sangat bergantung pada media sosial untuk menjangkau audiens internasional.

Kehilangan platform dengan 1,4 juta pengikut bukan sekadar kehilangan angka, melainkan hilangnya salah satu kanal informasi paling berpengaruh yang memberikan perspektif langsung dari warga sipil di lapangan.[]

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts