SEANTERONEWS.com – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase kritis di awal tahun 2026. Meskipun Republik Islam tersebut tengah didera krisis ekonomi domestik yang parah, para pakar kebijakan luar negeri memperingatkan bahwa Donald Trump tidak memiliki jalur untuk meraih “kemenangan mudah” dalam konfrontasi ini.
Asumsi bahwa tekanan ekonomi akan memaksa Tehran menyerah tanpa syarat dinilai sebagai kekeliruan strategis yang dapat menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam konflik berkepanjangan.
Berdasarkan laporan analisis terbaru per 17 Januari 2026, ada beberapa alasan mengapa strategi agresi AS terhadap Iran jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan:
Meski inflasi melonjak dan terjadi ketidakpuasan publik, struktur kekuasaan di Tehran terbukti sangat adaptif dalam menghadapi sanksi “Maximum Pressure”.
Iran tidak akan melawan AS secara head-to-head di laut atau udara secara konvensional. Mereka memiliki jaringan proksi dan kemampuan perang siber yang dapat melumpuhkan kepentingan AS di seluruh dunia dalam sekejap.
Serangan militer atau tekanan yang terlalu kasar dari Washington justru berisiko menyatukan rakyat Iran di bawah bendera nasionalisme, menghambat gerakan reformasi internal.
Trump menghadapi posisi yang sulit antara janji kampanye untuk “mengakhiri perang tanpa akhir” dan dorongan dari kelompok garis keras untuk bertindak tegas terhadap nuklir Iran:
Konflik terbuka di Selat Hormuz akan meledakkan harga energi global, sesuatu yang akan menghancurkan ekonomi domestik AS dan popularitas politik Trump sendiri.
Tidak seperti era sebelumnya, banyak sekutu Eropa kini lebih ragu untuk terlibat dalam petualangan militer baru di Timur Tengah tanpa strategi keluar (exit strategy) yang jelas.
Semakin ditekan, Iran semakin mempercepat pengayaan uraniumnya sebagai alat tawar-menawar, meninggalkan ruang diplomasi yang kian sempit bagi Gedung Putih.
Banyak pihak di Washington melihat demonstrasi dan kesulitan ekonomi di Iran sebagai tanda keruntuhan yang sudah dekat. Namun, analisis Al Jazeera menekankan bahwa “keputusasaan” sebuah negara justru bisa membuatnya lebih berbahaya. Iran yang merasa terpojok secara eksistensial cenderung melakukan tindakan militer yang lebih nekat untuk mengalihkan isu domestik.
Pada akhirnya, kekuatan militer mungkin bisa menghancurkan infrastruktur Iran, tetapi tidak bisa membeli stabilitas. Tanpa kesepakatan diplomatik yang komprehensif dan realistis, AS hanya akan terjebak dalam siklus kekerasan tanpa akhir yang memakan biaya triliunan dolar.[]









