SEANTERONEWS.com – Sebuah studi medis skala besar yang dirilis pada 16 Januari 2026 secara resmi mematahkan klaim kontroversial yang dilontarkan oleh Donald Trump. Sebelumnya, Trump memicu perdebatan publik setelah menyatakan adanya kaitan antara penggunaan parasetamol (acetaminophen) selama masa kehamilan dengan risiko autisme pada anak.
Penelitian komprehensif ini bertujuan untuk memberikan kepastian ilmiah di tengah simpang siur informasi yang berpotensi membahayakan kesehatan ibu dan janin.
Para peneliti dari berbagai institusi kesehatan global melakukan analisis mendalam terhadap ribuan data kelahiran dan riwayat medis. Hasilnya sangat jelas:
Faktor Genetik dan Lingkungan: Studi menunjukkan bahwa risiko autisme lebih dipengaruhi oleh faktor keturunan dan kondisi lingkungan, bukan akibat konsumsi parasetamol sebagai pereda nyeri.
Keamanan Penggunaan Medis: Parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pereda nyeri dan penurun panas yang paling aman bagi ibu hamil, asalkan dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter.
Metodologi yang Kuat: Berbeda dengan klaim tanpa dasar, penelitian ini mengontrol berbagai variabel seperti usia ibu, riwayat kesehatan keluarga, dan gaya hidup untuk memastikan akurasi data.
Pakar kesehatan menyatakan keprihatinan mendalam atas pernyataan yang tidak berdasar secara ilmiah. Dampak dari klaim yang salah tersebut antara lain:
Ketakutan yang Tidak Perlu: Banyak ibu hamil yang merasa cemas berlebihan untuk mengobati demam atau nyeri, padahal demam tinggi pada kehamilan justru bisa lebih berbahaya bagi janin.
Ketidakpercayaan pada Sains: Pernyataan tokoh politik yang bertentangan dengan konsensus medis dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan global.
Pengalihan Fokus: Perdebatan hoaks ini dinilai mengalihkan fokus dari riset sebenarnya mengenai penyebab kompleks spektrum autisme.
Menanggapi temuan ini, organisasi kesehatan internasional mengeluarkan panduan terbaru bagi para ibu di tahun 2026:
Konsultasi adalah Kunci: Selalu diskusikan penggunaan obat apa pun dengan dokter atau bidan sebelum dikonsumsi.
Gunakan Dosis Minimal: Jika diperlukan, gunakan parasetamol dalam dosis terkecil dan jangka waktu sesingkat mungkin.
Waspadai Sumber Informasi: Pastikan mendapatkan informasi kesehatan dari jurnal medis terakreditasi atau situs resmi kementerian kesehatan, bukan dari retorika politik di media sosial.
“Sains tidak bekerja berdasarkan opini atau kepentingan politik. Data menunjukkan secara konsisten bahwa parasetamol bukanlah penyebab autisme,” tegas seorang profesor epidemiologi dalam laporannya.[]









