SEANTERONEWS.com – Di tengah gejolak politik yang terus membara di Timur Tengah, sebuah nama lama kembali mencuat ke permukaan dengan pengaruh yang kian menguat. Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang kini menetap di pengasingan, secara terang-terangan menyerukan kepada rakyat Iran untuk bersiap “merebut momentum” demi perubahan kekuasaan di Teheran.
Pahlavi kini bukan sekadar figur simbolis masa lalu, melainkan pemain kunci yang mencoba menyatukan faksi-faksi oposisi yang terpecah di luar negeri.
Reza Pahlavi, putra dari mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi 1979, telah menghabiskan puluhan tahun di Amerika Serikat. Namun, pendekatannya kali ini dinilai lebih agresif dan terorganisir:
Ia mempromosikan visi Iran sekuler dan demokratis, meskipun banyak kritikus yang masih mempertanyakan peran institusi monarki jika ia kembali berkuasa.
Pahlavi berhasil memobilisasi jutaan diaspora Iran di seluruh dunia untuk menekan pemerintah Barat agar memperketat sanksi terhadap rezim saat ini.
Meski popularitasnya meningkat di kalangan anak muda yang tidak pernah merasakan era monarki, jalan Pahlavi tetap terjal:
Sebagian rakyat Iran masih mengingat masa kepemimpinan ayahnya dengan perasaan campur aduk, terutama terkait isu kebebasan berpolitik.
Belum semua kelompok oposisi, termasuk kelompok kiri dan etnis minoritas, bersedia berada di bawah kepemimpinan tunggal Pahlavi.
Pemerintah Iran secara konsisten melabeli Pahlavi sebagai “boneka Barat” dan ancaman terhadap kedaulatan negara.
Analis politik menilai bahwa krisis ekonomi yang berkepanjangan dan ketidakpuasan sosial di Iran memberikan celah bagi Pahlavi untuk menawarkan diri sebagai jembatan menuju stabilitas. Kehadirannya di berbagai forum internasional menunjukkan bahwa ia sedang mempersiapkan diri untuk skenario pasca-rezim.
“Waktu untuk sekadar memprotes telah lewat. Sekarang adalah waktunya untuk merencanakan masa depan,” tegas Pahlavi dalam wawancara Al-Jazeera.[]










