SEANTERONEWS.com – Ambisi Eropa untuk mandiri secara energi kini berada di ujung tanduk. Sebuah laporan investigasi mengungkap bahwa pengaruh China telah menyusup jauh ke dalam proyek pertambangan logam tanah jarang (rare earth) terbesar di Swedia, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai penyelamat industri hijau benua biru.
Keterlibatan perusahaan yang didukung Beijing dalam rantai pasok produsen Swedia memicu kekhawatiran besar di kalangan pejabat keamanan Uni Eropa. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis China untuk mempertahankan monopolinya atas material kritis dunia.
Eropa selama ini berupaya melepaskan diri dari ketergantungan bahan baku baterai dan motor listrik pada China. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya:
Ketergantungan Teknologi & Modal: Produsen Swedia dilaporkan sangat bergantung pada teknologi pemurnian dan pendanaan dari entitas yang memiliki kaitan erat dengan pemerintah China.
Kontrol Rantai Pasok: Meskipun tambang berada di tanah Eropa, hampir seluruh jalur distribusi dan pengolahan akhirnya bermuara pada kesepakatan yang menguntungkan pihak Timur.
Logam tanah jarang adalah “darah” bagi teknologi modern. Tanpanya, transisi menuju energi bersih akan mustahil dilakukan:
Komponen Inti: Digunakan dalam pembuatan magnet kuat untuk turbin angin dan motor mobil listrik (EV).
Teknologi Militer: Elemen ini krusial untuk radar canggih, rudal berpemandu, dan perangkat komunikasi pertahanan.
Kabar ini meledak di tengah upaya Uni Eropa memperketat aturan investasi asing di sektor strategis. Para analis memperingatkan bahwa jika langkah China ini tidak dibatasi, Eropa hanya akan berpindah dari ketergantungan gas Rusia ke ketergantungan mineral China.
“Ini adalah pengingat yang pahit bahwa kemandirian energi tidak bisa dicapai hanya dengan menemukan sumber daya di tanah sendiri, tetapi juga dengan menjaga siapa yang mengendalikan teknologi dan modalnya,” tulis poin kritis dalam laporan tersebut.[]











