BREAKING

OPINI

Profesor Antara Karya Nyata, Struktur, Numpang Nama, Kehormatan Semu dan Digitalisasi

"Menelaah marwah gelar Profesor. Antara kontribusi karya nyata, jebakan struktur birokrasi, fenomena numpang nama, hingga dampak digitalisasi akademik."

Oleh : Dr. Tgk. Saiful Bahri, MA**

Di balik kemegahan gelar “Profesor“, ternyata tersimpan cerita yang beragam. Bukan hanya soal pencapaian, tapi juga soal proses. Dalam dunia akademik kita hari ini, setidaknya ada lima tipe profesor yang patut kita renungkan. Bukan untuk menghakimi, tapi sebagai cermin untuk menjaga marwah keilmuan.

  1. Profesor Akademik Murni (Profesor Karya Nyata)

Tipe ini mungkin sudah mulai langka, tapi masih ada. Ia meniti gelar tertinggi bukan karena jabatan, bukan karena koneksi, tetapi karena komitmen ilmiah yang tak pernah pudar. Ia menulis dengan tangannya sendiri, meneliti dengan penuh integritas, mengabdi dengan penuh dedikasi. Tidak ada karya titipan, tidak ada publikasi “kebetulan”. Semua berjalan di atas pijakan kualitas dan etika. Inilah yang layak kita sebut sebagai Profesor Mandiri, Akademisi Sejati, atau Profesor Organik. Karyanya hadir karena cinta pada ilmu, bukan karena kebutuhan angka kredit semata.

  1. Profesor Struktural (Profesor Jabatan)

Tipe kedua adalah mereka yang naik ke puncak akademik bersamaan dengan naiknya kursi jabatan. Ia bisa jadi rektor, dekan, atau pejabat tinggi kampus. Tapi anehnya, produktivitas ilmiahnya tiba-tiba meledak saat menjabat. Padahal, waktu duduk di jabatan itu justru biasanya sibuk dengan urusan birokrasi. Siapa yang menulis? Siapa yang meneliti? Konon, banyak bawahan yang ‘dipasrahkan’ menyusun semua dokumen. Dia hanya hadir di kolom nama. Maka jadilah ia Profesor Administratif, Profesor Titipan Struktur, atau dalam bahasa yang lebih halus, Profesor Seremonial. Ilmunya kadang tidak bisa dijelaskan, tapi tandatangannya sangat menentukan.

  1. Profesor Kredit Gratisan (Profesor Numpang Nama)

Tipe ketiga ini paling banyak diperbincangkan di lorong-lorong kampus. Ia mungkin bukan pejabat tinggi, tapi punya jaringan luas di antara mahasiswa dan dosen muda. Caranya naik menjadi profesor? Dengan satu strategi: numpang nama di sebanyak mungkin publikasi, meskipun kontribusinya sering kali nihil. Mahasiswa yang sedang menyusun artikel jurnal diwajibkan mencantumkan namanya. Dosen muda yang sedang giat meneliti ‘diminta’ berbagi kredit. Maka lengkaplah portofolio karyanya, tanpa perlu bersusah payah. Mereka inilah yang layak disebut Profesor Kompilasi, Profesor Bayangan, atau Profesor Siluman Akademik. Ia hadir dalam daftar penulis, tapi tidak pernah hadir dalam proses ilmiah.

  1. Profesor Kehormatan (Profesor karena Ketokohan)

Gelar ini memang resmi dan sah secara akademik, namun bukan diraih melalui proses administratif kenaikan jabatan fungsional seperti yang lainnya. Gelar ini dikenal dengan istilah Profesor Honoris Causa, sebuah gelar kehormatan yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada seseorang karena kontribusi luar biasa dalam bidang ilmu, kemanusiaan, budaya, atau kepemimpinan, walau ia mungkin tidak melalui jalur akademik formal sepenuhnya.

Biasanya, penerimanya adalah tokoh besar nasional, ulama karismatik, pemimpin bangsa, atau tokoh budaya. Mereka mungkin tidak menulis jurnal ilmiah Scopus atau memimpin penelitian multimiliaran, tetapi jejak sosial dan pengaruhnya begitu luas hingga kampus menganggap layak memberi penghormatan tertinggi. Inilah Profesor Ketokohan, Profesor Pengaruh, atau Profesor Inspiratif.

Namun sayangnya, gelar ini juga kadang disalahgunakan oleh lembaga yang hanya mencari sensasi atau kedekatan politik, sehingga makna kehormatannya jadi kabur. Jika tidak hati-hati, bisa saja gelar ini hanya menjadi hadiah diplomatik atau alat legitimasi kekuasaan.

  1. Profesor Digitalisasi

Tipe kelima adalah Profesor ‘Digitalisasi’, yaitu yang baru sadar pentingnya publikasi dan sitasi setelah melihat rekannya dilantik jadi guru besar. Tiba-tiba ikut workshop Scopus, rajin unggah Google Scholar, dan mulai ‘merayu’ mahasiswa agar hasil skripsi dijadikan artikel. Sebuah perubahan yang baik, meski agak terlambat. Asal niatnya tulus, mari kita dukung.

Tulisan ini tentu bukan untuk menuding siapa pun. Justru kita berharap agar gelar profesor tidak hanya menjadi lambang prestise administratif, tetapi tetap menjadi lambang keilmuan yang mencerahkan umat. Karena profesor bukan sekadar jabatan, tapi tanggung jawab moral dan intelektual.

Kita tidak anti pada profesor yang menjabat. Kita juga tidak anti pada kerja sama antara dosen dan mahasiswa. Tapi kita berharap, proses ilmiah itu tetap berjalan secara jujur, proporsional, dan penuh tanggung jawab.

Di tengah krisis keteladanan, semoga yang tersisa bukan hanya gelar, tapi juga integritas. Karena pada akhirnya, sejarah hanya mencatat dua jenis nama: yang dikenang karena ilmu, dan yang dilupakan karena tipu.

**). Penulis adalah Spn Aceh Di Bale Seumike

 

author avatar
vintech author

2 Comments

  1. Parmudi Merdeka says:

    *GoodJob☕👍

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts