MENLO PARK – Raksasa teknologi Meta Platforms Inc., induk perusahaan Facebook dan Instagram, baru saja mengambil langkah revolusioner untuk mengamankan masa depan teknologinya. Mark Zuckerberg secara resmi mengumumkan kesepakatan strategis dengan tiga perusahaan energi untuk membangun dan memanfaatkan tenaga nuklir sebagai sumber listrik utama bagi pusat data (data center) mereka.
Langkah ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan daya listrik yang luar biasa besar untuk menjalankan infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI) yang kini menjadi fokus utama perusahaan.
Perkembangan AI yang sangat pesat menuntut daya komputasi yang haus energi. Meta menyadari bahwa energi terbarukan tradisional seperti tenaga surya dan angin saja tidak cukup untuk menjaga operasional 24 jam nonstop.
Nuklir dianggap sebagai solusi energi rendah karbon yang mampu memberikan pasokan listrik stabil secara terus-menerus.
Dengan memiliki kesepakatan eksklusif, Meta memastikan operasional pusat datanya tidak akan terganggu oleh fluktuasi harga energi global.
Meskipun detail finansial masih dirahasiakan, Meta dilaporkan bekerja sama dengan tiga pengembang energi nuklir terkemuka (termasuk fokus pada teknologi SMR – Small Modular Reactors) untuk:
Pembangunan Reaktor Modular: Memungkinkan pemasangan sumber energi yang lebih fleksibel di dekat lokasi pusat data.
Dekarbonisasi: Membantu Meta mencapai target emisi nol bersih (net-zero emissions) di tengah kritik terhadap tingginya konsumsi energi perusahaan teknologi.
Inovasi Jangka Panjang: Kerja sama ini mencakup riset dan pengembangan teknologi nuklir generasi terbaru yang lebih aman dan efisien.
Langkah Meta ini menyusul jejak raksasa teknologi lainnya seperti Microsoft dan Google yang juga telah melirik energi nuklir. Hal ini menandakan era baru di mana perusahaan teknologi tidak hanya berlomba dalam kode dan algoritma, tetapi juga dalam penguasaan infrastruktur energi fisik.
“AI adalah masa depan, dan energi nuklir adalah bahan bakarnya. Tanpa energi yang stabil dan bersih, ambisi AI global tidak akan pernah tercapai,” ungkap salah satu analis industri.[]











