SEANTERONEWS.com – Jalur Gaza kini menghadapi “kiamat ekonomi” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Memasuki awal tahun 2026, data terbaru menunjukkan tingkat kemiskinan dan pengangguran melambung tinggi hingga ke level yang sangat mengkhawatirkan sebagai dampak langsung dari perang berkepanjangan yang menghancurkan seluruh infrastruktur wilayah tersebut.
Ekonomi Gaza hampir tidak bernapas lagi. Pabrik-pabrik, lahan pertanian, hingga pusat perbelanjaan yang dulunya menjadi tumpuan ekonomi kini rata dengan tanah, menyisakan jutaan orang tanpa sumber pendapatan sama sekali.
Sebagian besar angkatan kerja di Gaza kini tidak memiliki pekerjaan. Sektor swasta yang menjadi tulang punggung ekonomi telah lumpuh total. Tanpa adanya akses ke material bangunan dan perdagangan luar negeri, upaya untuk menciptakan lapangan kerja baru menjadi sebuah kemustahilan di tengah blokade yang masih mencekik.
Lebih dari sekadar angka, kemiskinan di Gaza kini berarti kelaparan sistemik. Mayoritas keluarga di Gaza kini bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan internasional yang jumlahnya pun kian terbatas dan sering terhambat masuk ke wilayah kantong tersebut.
“Kami tidak lagi berbicara tentang kemiskinan biasa, ini adalah penghancuran total terhadap martabat manusia untuk bertahan hidup,” mengutip sumber di lapangan.
Ketidakhadiran lapangan kerja berdampak paling berat bagi generasi muda Gaza. Ribuan sarjana yang lulus setiap tahunnya harus menghadapi kenyataan pahit bahwa tidak ada tempat bagi mereka untuk berkarya, memicu risiko trauma psikologis jangka panjang dan ketidakpastian masa depan yang kelam.
Dunia internasional kini didesak untuk memberikan bantuan yang lebih dari sekadar makanan, melainkan langkah-langkah politik konkret untuk memulihkan ekonomi Gaza sebelum seluruh tatanan sosial di wilayah tersebut benar-benar runtuh tanpa sisa.[]











