SEANTERONEWS.com – Stabilitas di Semenanjung Arab kembali berada di ujung tanduk. Kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) secara resmi menyatakan penolakan mereka untuk menarik pasukan dari provinsi-provinsi strategis yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi.
Langkah berani ini memicu kekhawatiran akan runtuhnya kesepakatan damai yang telah diupayakan selama bertahun-tahun. STC menegaskan bahwa kehadiran militer mereka di wilayah tersebut merupakan harga mati untuk menjaga keamanan wilayah selatan Yaman dari ancaman eksternal maupun internal.
Penolakan ini difokuskan pada wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Arab Saudi, yang selama ini menjadi zona penyangga krusial. STC berpendapat bahwa penarikan pasukan tanpa jaminan politik yang jelas bagi kemerdekaan Yaman Selatan hanya akan menciptakan kekosongan kekuasaan yang berbahaya.
“Kami tidak akan membiarkan kekosongan keamanan di wilayah yang menjadi hak rakyat selatan,” ujar juru bicara STC dalam pernyataan resminya.
Sikap keras kepala STC ini menempatkan Arab Saudi dalam posisi sulit. Sebagai mediator utama dalam konflik Yaman, Riyadh terus berupaya menyatukan faksi-faksi yang bertikai untuk menghadapi pemberontak Houthi di utara. Namun, pembangkangan STC ini menunjukkan adanya keretakan besar di dalam koalisi anti-Houthi itu sendiri.
Para pengamat geopolitik memperingatkan bahwa jika ketegangan ini tidak segera diredam, Yaman berisiko terjerumus kembali ke dalam perang saudara yang lebih kompleks, yang melibatkan perebutan wilayah antar faksi di wilayah selatan dan timur.
Ketidakpastian politik ini juga memperlambat penyaluran bantuan kemanusiaan ke wilayah-wilayah terpencil di Yaman. Selain itu, ketegangan di perbatasan dapat mengganggu stabilitas ekspor energi di kawasan tersebut jika eskalasi militer benar-benar terjadi.
Dunia internasional kini menunggu respons resmi dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan koalisi pimpinan Saudi untuk meredam potensi ledakan konflik di awal tahun 2026 ini.[]











