BREAKING

INTERNASIONAL

Relawan Temukan Al-Fashir Kosong Melompong Setelah Dikuasai Paramiliter

SEANTERONEWS.com – Kesaksian memilukan datang dari para pekerja bantuan internasional yang berhasil memasuki kota Al-Fashir, Sudan, pada Senin (29/12). Setelah berbulan-bulan pengepungan dan pertempuran sengit, kota yang dulunya menjadi pusat perlindungan bagi jutaan pengungsi ini kini digambarkan sebagai “kota hantu” yang nyaris tanpa tanda-tanda kehidupan.

Kondisi ini terungkap tak lama setelah kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) mengeklaim kendali penuh atas kota strategis di wilayah Darfur Utara tersebut.

Kesaksian Relawan: “Hampir Tidak Ada Kehidupan”. Para relawan yang melakukan survei darurat menemukan pemandangan yang menghancurkan hati.

Kota yang Sunyi: Jalan-jalan utama yang biasanya ramai kini kosong. Sebagian besar warga sipil telah melarikan diri atau tersembunyi dalam ketakutan.

Kehancuran Infrastruktur: Rumah sakit, pasar, dan fasilitas publik hancur total akibat pengeboman dan penjarahan massal.

Kelaparan Mengancam: Mereka yang tersisa di pinggiran kota ditemukan dalam kondisi gizi buruk akut tanpa akses ke air bersih atau obat-obatan.

Penjatuhan Al-Fashir ke tangan RSF menandai titik balik kelam dalam perang saudara di Sudan. Diperkirakan ratusan ribu warga telah melarikan diri ke kamp-kamp pengungsian yang sudah sesak di perbatasan Chad, menciptakan krisis pengungsi terbesar di awal tahun 2026.

“Apa yang kami lihat di Al-Fashir melampaui kata tragis. Ini adalah kehampaan yang menakutkan. Komunitas internasional harus bertindak sebelum jejak kehidupan di sini benar-benar hilang,” ujar seorang koordinator bantuan kemanusiaan.

Laporan mengenai kekerasan seksual, eksekusi sewenang-wenang, dan pembersihan etnis terus membayangi jatuhnya Al-Fashir. PBB mendesak akses bantuan tanpa hambatan untuk menjangkau mereka yang mungkin masih terjebak di ruang-ruang bawah tanah atau reruntuhan bangunan.

Dengan jatuhnya benteng terakhir pemerintah di Darfur ini, kekhawatiran akan pecahnya Sudan menjadi beberapa wilayah yang dikuasai milisi semakin nyata. Krisis ini menjadi tantangan berat bagi Dewan Keamanan PBB untuk segera memberlakukan gencatan senjata demi menyelamatkan nyawa yang tersisa.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts