BREAKING

HUKUMINTERNASIONAL

Kasus Hashem Abedi Paksa Inggris Adopsi Sistem Hadiah Penjara Amerika Serikat

SEANTERONEWS.com – Sebuah insiden kekerasan di dalam penjara dengan keamanan tingkat tinggi (High Security Estate) Inggris telah memicu perdebatan yang panas. Hashem Abedi, terpidana dalang serangan bom Manchester Arena, dikabarkan menjadi sasaran serangan di dalam selnya, yang kini berbuntut pada tuntutan revolusi sistem pemasyarakatan di Britania Raya.

Para pejabat keamanan dan serikat pekerja penjara kini mendesak pemerintah untuk mengadopsi sistem imbalan gaya Amerika Serikat. Sistem ini dirancang untuk memutus rantai radikalisasi dan kekerasan di balik jeruji besi dengan memberikan insentif bagi narapidana yang melaporkan rencana serangan atau aktivitas ilegal.

Insiden yang melibatkan Abedi menyoroti lubang besar dalam pengawasan narapidana kategori “High Risk”. Meskipun berada dalam unit khusus, informasi mengenai rencana serangan terhadapnya—atau rencana yang disusun oleh kelompoknya—sering kali terlambat terdeteksi.

Para ahli berpendapat bahwa tanpa sistem “imbalan” yang terstruktur seperti di AS, narapidana cenderung menutup mulut karena takut akan pembalasan atau karena tidak adanya keuntungan nyata jika mereka bekerja sama dengan otoritas.

Narapidana yang memberikan informasi akurat bisa mendapatkan pemotongan masa hukuman.

Akses ke komunikasi yang lebih baik, makanan yang lebih layak, atau pemindahan ke unit dengan pengamanan lebih rendah.

Jaminan keamanan ekstra bagi mereka yang dianggap sebagai “informan” untuk mencegah aksi balas dendam.

Langkah ini langsung menuai kritik tajam. Sebagian pihak menilai bahwa memberikan “hadiah” kepada narapidana, terutama mereka yang terlibat kasus berat, adalah penghinaan terhadap keadilan bagi para korban.

“Memberikan imbalan kepada pelaku kriminal demi mendapatkan informasi adalah pedang bermata dua,” ujar seorang pengamat hukum pidana kepada The Guardian. “Ini bisa menciptakan budaya fitnah di dalam penjara demi mendapatkan keuntungan pribadi.”

Kementerian Kehakiman Inggris (MoJ) kini berada di bawah tekanan besar. Kasus Hashem Abedi bukan sekadar tentang keselamatan satu narapidana, melainkan tentang bagaimana negara mampu mengendalikan ideologi ekstremis dan kekerasan sistemik di dalam penjara yang kian hari kian tidak terkendali.

Apakah Inggris benar-benar akan mengikuti jejak Amerika Serikat dalam memberikan “gaji” atau “hadiah” bagi para informan penjara? Keputusan ini diprediksi akan menjadi kebijakan paling kontroversial di tahun 2026.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts