SEANTERONEWS.com – Eskalasi konflik bersenjata di Sudan mencapai titik nadir yang memilukan. Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa serangkaian serangan drone yang menghantam wilayah Kordofan telah menewaskan lebih dari 100 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
Tragedi ini menjadi salah satu serangan paling mematikan bagi penduduk sipil sejak perang saudara pecah, memperburuk penderitaan di negara yang sudah hancur akibat konflik berkepanjangan tersebut.
Serangan udara tanpa awak ini dilaporkan menyasar area pemukiman padat dan pasar lokal di wilayah Kordofan, yang selama ini menjadi medan tempur antara militer Sudan dan pasukan paramiliter. Para saksi mata menggambarkan situasi pasca-serangan sebagai “pemandangan kiamat,” dengan fasilitas medis yang terbatas kewalahan menangani ratusan korban luka.
Kematian massal ini memicu kecaman keras dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional. Berikut adalah fakta krusial terkait situasi di Sudan saat ini:
Lebih dari 100 orang tewas dalam satu hari operasi drone.
Serangan di Kordofan semakin memutus jalur logistik bantuan makanan yang sangat dibutuhkan warga.
Ribuan warga kembali melarikan diri ke perbatasan tetangga untuk mencari perlindungan dari serangan udara yang kian intens.
PBB dan Uni Afrika kembali mendesak gencatan senjata segera. Penggunaan teknologi drone dalam konflik ini menandai babak baru yang lebih berbahaya bagi keselamatan warga sipil, di mana serangan dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan dini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab secara penuh atas serangan spesifik di Kordofan, sementara kedua belah pihak yang bertikai saling melontarkan tuduhan.[]









