SEANTERONEWS.com — Dalam hitungan minggu setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa langsung mencuri perhatian publik. Ia berhasil menaikkan popularitasnya secara signifikan berkat berbagai kebijakan strategis yang digulirkannya dengan cepat dan lugas. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka — yang sebelumnya dinilai sebagai figur kuat dalam pentas politik nasional — justru mengalami penurunan popularitas yang cukup tajam.
Purbaya disebut-sebut sebagai figur baru yang “isi” dikenal lebih dari sekadar “nama”. Sejak dilantik, ia membuat gebrakan seperti penyaluran dana Rp200 triliun yang mengendap di Bank Indonesia ke bank-bank nasional, serta menyatakan bahwa kenaikan cukai rokok untuk 2026 akan ditunda. Kombinasi antara kecepatan tindakan, komunikasi yang jelas, dan target ambisius untuk pertumbuhan ekonomi 6 hingga 8 persen membuat banyak pihak — terutama publik muda dan kalangan usaha — memberikan respons positif.
Sebaliknya, Gibran yang sebelum ini melejit karena nama besar dan koneksi politik, kini dianggap kurang melakukan langkah konkret atau belum menunjukkan capaian signifikan yang bisa mengangkat citranya. Sebagian analis politik menyebut bahwa figur publik kini tidak cukup hanya dengan nama besar atau kedekatan dengan pucuk kekuasaan — tindakan nyata dan hasil yang dirasakan publik menjadi kunci keberhasilan.
Purbaya tampaknya mulai memanfaatkan momentum sebagai “menantu rakyat” yang bukan hanya diharapkan, tetapi juga terlihat bergerak. Media sosial, misalnya, ramai membicarakan aksi-aksi dan pernyataannya, sedangkan Gibran mulai kehilangan ruang dalam percakapan publik yang lebih menilai substansi daripada sisi citra semata.
Meski demikian, pengamat politik mengingatkan bahwa popularitas yang tinggi tidak serta-merta menjamin keberhasilan jangka panjang. Tantangan seperti pengelolaan utang negara, tekanan global terhadap ekonomi Indonesia, dan implementasi kebijakan yang berkelanjutan akan menjadi pengukur utama. Bagi Gibran, penurunan popularitas ini menjadi sinyal agar lebih cepat menunjukkan kinerja dan bukti nyata — bukan hanya reputasi.[]










