SEANTERONEWS.com – Popularitas Presiden Emmanuel Macron berada pada tingkat yang terendah. Survei terbaru menunjukkan hanya sekitar 17% saja warga Prancis yang memiliki pandangan positif terhadap kepemimpinannya, sementara sekitar 83% menyatakan tidak puas terhadap kinerja pemerintahannya.
Penurunan ini terjadi di tengah gonjang-ganjing politik yang terus meningkat. Pemerintah Macron kini menghadapi kegagalan dalam membentuk mayoritas parlemen yang stabil sejak pemilu legislatif 2024. Sejak saat itu, Prancis telah mengalami pergantian perdana menteri beberapa kali, termasuk pengunduran diri Sébastien Lecornu hanya beberapa hari setelah kabinetnya diumumkan.
Krisis anggaran juga menjadi pemicu kegelisahan publik. Pemerintah tengah mempersiapkan langkah penghematan besar-besaran, termasuk pemotongan pengeluaran sosial dan reformasi pensiun, yang menuai protes dan kritik luas. Banyak warga merasakan tekanan biaya hidup mahal dan beban ekonomi semakin berat.
Selain itu, partai-partai oposisi dari spektrum kiri dan kanan politik semakin vokal menyerukan perubahan besar. Beberapa kelompok mendesak agar Macron mengundurkan diri atau setidaknya membubarkan parlemen dan menggelar pemilihan dini, demi mengakhiri kebuntuan politik yang memperlambat pengambilan kebijakan penting.
Dari sisi ekonomi, investor dan pasar keuangan mulai menunjukkan kekhawatiran. Kredit peringkat Prancis mendapat kritikan, peminjaman oleh pemerintah dikabarkan makin mahal, dan kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola ekonomi makin miris.
Kondisi ini dipandang sebagai ujian berat bagi sistem pemerintahan Prancis, di mana pemimpin dituntut tidak hanya memenuhi harapan publik, tetapi juga menavigasi dinamika parlemen yang sangat terpecah.[]










