BREAKING

INTERNASIONAL

Kunjungan ke Kampus Nur Mubarak: Menyaksikan Semangat Baru Islam di Kazakhstan

Oleh: Andi Mardika, Lc., MA, Ph.D**

Kazakhstan – Perjalanan ke Kampus Nur Mubarak di jantung Kota Almaty meninggalkan jejak pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Kunjungan ini bukan hanya sekadar melihat sebuah institusi pendidikan tinggi Islam, tetapi juga menyelami denyut nadi kebangkitan identitas Islam di Kazakhstan. Negeri ini, yang pernah terkungkung dalam belenggu ateisme selama puluhan tahun di bawah rezim Uni Soviet, kini menunjukkan wajah baru Islam yang hidup, dinamis, dan penuh semangat.

Suasana Islami yang Menghidupkan

Sejak langkah pertama menapaki halaman kampus, nuansa Islami begitu kental terasa. Udara dingin khas Almaty seolah hangat oleh pemandangan yang menyejukkan hati. Mahasiswi dengan hijab yang rapi berjalan dengan penuh ketenangan menuju kelas, menampilkan harmoni antara tradisi dan modernitas. Di sisi lain, sekelompok mahasiswa duduk bersila dengan mushaf terbuka, bibir mereka bergerak perlahan seakan berdialog langsung dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Di dalam perpustakaan, suasana tak kalah khusyuk. Rak-rak tinggi penuh dengan kitab klasik ulama besar Islam berdampingan dengan buku-buku kontemporer. Para mahasiswa tampak tekun menekuri halaman demi halaman, membentuk suasana yang menyerupai taman ilmu: hidup, berwarna, dan mengakar kuat pada kecintaan terhadap pengetahuan. Semua itu menghadirkan kesan bahwa kampus ini lebih dari sekadar tempat belajar, melainkan ruang spiritual yang menumbuhkan karakter.

Jejak Panjang dari Era Soviet ke Kebangkitan Islam

Kehadiran Universitas Islam Nur Mubarak tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Kazakhstan. Selama era Soviet, agama ditekan habis-habisan. Masjid-masjid ditutup, praktik keagamaan diawasi ketat, dan banyak keluarga tumbuh tanpa kesempatan mengenalkan anak-anak mereka pada nilai-nilai Islam. Situasi itu melahirkan generasi yang tercerabut dari akar spiritualitasnya.

Namun, titik balik terjadi ketika Kazakhstan meraih kemerdekaan pada tahun 1991. Saat itu, muncul kesadaran kolektif akan kebutuhan mendesak menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang kredibel. Dari kesadaran inilah lahir gagasan pendirian Universitas Islam Nur Mubarak—hasil kerja sama antara pemerintah Kazakhstan dan al-Azhar University, Mesir. Nama “Nur Mubarak” dipilih sebagai simbol persahabatan, mengabadikan peran Presiden pertama Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev, dan Presiden Mesir kala itu, Hosni Mubarak.

Simbol Keilmuan Islam Modern

Hari ini, Nur Mubarak dikenal sebagai pusat pendidikan tinggi Islam paling prestisius di Kazakhstan, bahkan di Asia Tengah. Kampus ini menawarkan berbagai program studi, mulai dari Syariah, Bahasa Arab, Tafsir, hingga Hubungan Internasional. Di sinilah para calon imam, akademisi, dan cendekiawan Muslim ditempa untuk memikul tanggung jawab membimbing masyarakat kembali ke ajaran Islam yang moderat, sesuai dengan budaya dan konteks sosial Kazakhstan.

Bangunan kampus berdiri megah dengan arsitektur modern, namun tetap memancarkan kesederhanaan religius. Masjid di kawasan kampus selalu ramai dengan shalat berjamaah, menciptakan ikatan spiritual yang kuat di antara sivitas akademika. Sementara itu, perpustakaan menjadi jantung aktivitas intelektual, tempat para mahasiswa menemukan inspirasi dan menggali khazanah keilmuan Islam klasik maupun kontemporer.

Semangat yang Membara di Kalangan Generasi Baru

Kesempatan berbincang dengan mahasiswa dan dosen di kampus ini membuka pandangan tentang wajah baru Islam di Kazakhstan. Mereka tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga berusaha menyeimbangkan antara tradisi dan tantangan modernisasi. Ada kesadaran yang tumbuh bahwa pendidikan agama memegang peranan penting dalam menjaga nilai-nilai Islam, sekaligus menjadi benteng menghadapi arus globalisasi yang kian deras.

Semangat itu terasa nyata dalam tutur kata mereka. Mahasiswa Nur Mubarak percaya bahwa melalui ilmu, mereka dapat membangun peradaban Islam yang berakar pada moderasi, bukan ekstremisme, serta menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas. Optimisme itu menjadikan kampus ini semacam ladang harapan, tempat tumbuhnya generasi Muslim yang siap memimpin masa depan Kazakhstan.

Mercusuar Islam di Asia Tengah

Kunjungan ke Nur Mubarak bukanlah sekadar menyaksikan gedung-gedung kampus berdiri. Lebih dari itu, kunjungan ini adalah perjumpaan dengan ruh keislaman yang tengah bangkit di sebuah negeri yang dulu pernah berada di bawah bayang-bayang ateisme. Nur Mubarak kini menjelma menjadi mercusuar Islam di Asia Tengah—tempat ilmu, iman, dan kebudayaan berpadu dalam harmoni.

Dari kampus ini, cahaya Islam dipancarkan kembali, membimbing masyarakat Kazakhstan untuk menemukan arah setelah sekian lama terjebak dalam kegelapan sejarah. Seperti matahari yang terbit di balik pegunungan Almaty, Nur Mubarak menghadirkan harapan baru: Islam yang hidup, membumi, dan penuh semangat di hati generasi penerus.[]

**). Penulis adalah Dosen UIN  Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts